Menjaga Kepercayaan!

radar tasikmalaya
MR Hakim, General Manager Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Episode kedua ini mengingatkan satu hal: media yang baik bukan yang selalu dipuji, melainkan yang tetap bekerja meski sering tidak disukai.

MELAWAN ALGORITMA

Dulu, redaksi menentukan berita utama. Sekarang, algoritma yang sering mengambil alih. Ia tidak peduli penting atau tidak. Ia hanya menghitung: berapa banyak klik, berapa yang membagikan, berapa lama orang berhenti membaca.

Media daerah paling merasakan dampaknya. Jika ikut algoritma, harus heboh. Jika ingin heboh, harus menyederhanakan. Jika terlalu disederhanakan, makna hilang. Radar Tasikmalaya berdiri di persimpangan itu.

Baca Juga:Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"Bukan Sekedar Bukber!

Di satu sisi, ia harus bertahan secara bisnis. Di sisi lain, ia tidak ingin menggadaikan akal sehat. Pilihan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Pilihan-pilihan itu dibuat setiap hari. Judul yang sengaja tidak provokatif. Berita yang tetap panjang di saat orang ingin ringkas.

Liputan mendalam yang tidak viral, tapi dibutuhkan. Algoritma tidak suka itu. Pembaca yang berpikir justru membutuhkannya. Radar Tasikmalaya memilih percaya pada pembaca. Percaya bahwa masyarakat Priangan Timur masih membutuhkan konteks, bukan sekadar sensasi.

Media daerah punya keterbatasan. Modal tidak besar. Tim tidak gemuk. Tapi ia punya satu keunggulan: kedekatan dengan realitas.

Radar Tasikmalaya tahu bahwa satu kebijakan kecil di daerah bisa berdampak besar bagi kehidupan sehari-hari warga. Dan cerita-cerita seperti itu jarang menarik algoritma—tapi sangat penting bagi publik.

Maka, melawan algoritma bukan berarti menolak teknologi. Radar Tasikmalaya memanfaatkannya, tanpa tunduk sepenuhnya. Digital dijalani. Video dibuat. Media sosial diisi. Tapi nilai dasar tetap dijaga.

Dua puluh dua tahun perjalanan Radar Tasikmalaya menunjukkan satu pelajaran: masa depan media daerah tidak ditentukan oleh siapa paling ramai, tapi siapa paling konsisten.

DIBUTUHKAN

MESKI TIDAK SELALU DICARI

Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana

Relevan itu kata yang sering disalahpahami. Banyak yang mengira relevan berarti ikut ramai. Padahal, ramai belum tentu penting. Radar Tasikmalaya memilih definisi lain: relevan adalah dibutuhkan, meski tidak selalu dicari. Pilihan itu tidak mudah di era algoritma. Media dituntut cepat. Judul harus menggoda. Berita harus ringan. Jika tidak, ditinggalkan.

0 Komentar