Menjaga Kepercayaan!

radar tasikmalaya
MR Hakim, General Manager Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Di tengah perubahan teknologi dan gempuran media sosial, Radar Tasikmalaya terus beradaptasi. Koran cetak, koran digital, televisi—semua dijalani. Bukan untuk mengejar tren, melainkan agar pesan tetap sampai dengan benar.

Dua dekade lebih ini mengajarkan satu hal: media daerah tidak harus besar untuk berarti. Ia cukup dipercaya. Radar Tasikmalaya telah membuktikan itu selama 22 tahun di Priangan Timur.

Dan selama kepercayaan masih dijaga, selama kontrol sosial masih dilakukan dengan nurani, selama informasi disampaikan dengan akal sehat, Radar Tasikmalaya akan tetap dibutuhkan.

KRITIK MENJADI MURAH

Baca Juga:Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"Bukan Sekedar Bukber!

Ada masa ketika kritik dianggap bagian dari demokrasi. Sekarang, kritik sering dianggap gangguan. Apalagi jika datang dari media daerah. Media yang dianggap terlalu dekat. Terlalu tahu. Terlalu sering mengingatkan.

Radar Tasikmalaya merasakan perubahan itu. Dulu, pejabat menunggu koran pagi. Sekarang, pejabat menunggu notifikasi ponsel. Masalahnya, tidak semua notifikasi layak dipercaya.

Media sosial membuat kritik menjadi murah. Semua bisa marah. Semua bisa menuduh. Tapi tidak semua mau bertanggung jawab. Di situlah fungsi kontrol sosial media diuji: tetap kritis, tapi tidak sembrono.

Radar Tasikmalaya memilih cara lama yang masih relevan: membaca dokumen, bertanya, lalu menulis. Tidak heboh. Tidak meledak-ledak. Kadang justru terasa sepi.

Namun, kontrol sosial memang bukan soal tepuk tangan. Ia soal keberanian menulis sesuatu yang perlu dibaca, meski tidak disukai.

Selama 22 tahun, Radar Tasikmalaya telah berkali-kali berada di posisi tidak nyaman. Mengingatkan kebijakan yang melenceng. Menyuarakan keluhan warga yang tidak punya panggung. Mengurai persoalan daerah yang dianggap sepele, tapi berdampak panjang.

Sebagai media Priangan Timur, Radar Tasikmalaya tahu batas. Kritik tidak harus kasar. Ketegasan tidak harus marah. Data lebih penting dari opini.

Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana

Di ruang redaksi, pertanyaan sederhana terus diajukan: Ini penting bagi publik atau hanya ramai sesaat? Jika penting, ia ditulis. Jika hanya ramai, ia ditahan.

Media yang bertahan lama biasanya sudah kebal pujian. Tapi tidak pernah kebal terhadap kesalahan. Karena itu, Radar Tasikmalaya juga belajar mendengar. Mengoreksi diri. Mengakui jika keliru. Kontrol sosial yang sehat memang dua arah.

0 Komentar