Acara ditutup dengan doa dan muhasabah yang dipimpin Ustaz Muhamad Jaeni. Suaranya tegas. Salawatnya membuat kepala-kepala tertunduk. Anak-anak yatim, para scooter, tamu undangan—semua larut dalam keheningan.
Lalu azan Magrib tiba. Mereka berbuka bersama. Tanpa jarak. Tanpa sekat. Guyub. Hangat. Saya pulang dengan perasaan hangat. Sering kali komunitas motor dinilai dari suaranya. Dari knalpotnya. Dari konvoinya.
Tapi sore itu saya melihat dari sisi lain: hatinya. Dan saya bersyukur memilih hadir.
Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana
Karena di tengah deru mesin, saya menyaksikan sesuatu yang jauh lebih kuat dari suara knalpot yakni suara kepedulian. (red)
