TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya memilih hadir. Padahal agenda sore itu tidak masuk daftar kewajiban. Tapi hati saya mengatakan, datanglah. Ada yang berbeda.
Buka bersama anak yatim piatu yang digagas Scooter Tasikmalaya Club (STC) ini bukan sekadar acara seremonial Ramadan. Ada ruh di dalamnya. Ada getar yang tidak biasa.
Dan firasat itu benar. Di halaman Masjid Polres Tasikmalaya Kota, saya melihat pemandangan yang jarang terjadi, seorang Kapolres datang bukan dengan mobil dinas.
Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana
Andi Purwanto, Kapolres Tasikmalaya Kota, hadir dengan Vespa Sprint warna hijau tua. Ia membonceng seorang anak yatim.
Rompi STC melekat di tubuhnya. Sepatu Converse hitam menempel di kakinya. Hari itu Andi seperti mendadak menjadi scooter sejati. Ia terlihat lebih muda. Bahkan—kalau boleh jujur—lebih ganteng.
Jabatan seperti larut dalam kebersamaan. Saya tersenyum melihatnya. Ini bukan pemandangan protokoler. Ini pemandangan persaudaraan.
Bagi saya, memuliakan anak yatim selalu punya tempat istimewa. Ia bukan sekadar berbagi nasi kotak atau amplop santunan. Ia adalah cara membuka pintu-pintu rezeki yang mungkin selama ini terasa berat didorong.
Saya memperhatikan gestur para scooter. Mata mereka berbinar ketika berbicara tentang anak yatim. Suara mereka meninggi bukan saat membahas mesin, tapi saat membahas santunan.
Saya menyebutnya: ini masa Scooter Bersyariah. Bukan dalam arti formalitas simbolik. Tapi proses menuju kebaikan. Komunitas yang selama ini identik dengan jalan raya, kini menapaki jalan keberkahan.
Ketua panitia, Asep Saeful Efendi, bergerak cepat. Teliti. Ia menyusun acara seperti orang merancang masa depan. Mang Ozon—panglima vespanya—terus berkoordinasi. Tubuhnya besar. Energinya lebih besar lagi. Ia menikmati setiap detik kepedulian itu.
Baca Juga:Pulang Naik Bus Budiman, Bupati Tasikmalaya Seperti Nostalgia!Kuota Penukaran Ludes, Warga Kota Tasikmalaya Bingung Mencari Uang Pecahan untuk THR Lebaran
Mang Ade Dj. sibuk menulis rundown. Merapikan alur. Semua menyatu. Tidak ada yang ingin tampil paling depan. Tidak ada yang mencari validasi media sosial. Yang mereka pikirkan hanya satu: bagaimana caranya bermakna lalu berdampak.
Dewan Penasehat STC, Rahmat Slamet, datang dengan Vespa Super. Jaket leavis melekat di tubuhnya. Sekilas mirip karakter Dilan. Ia bahkan mengajak istrinya, Indah Nali Hati. Seperti bernostalgia. Seperti ingin mengulang masa muda—tapi dengan makna yang lebih dewasa.
