GM Radar Tasikmalaya, MR Hakim, menyebut kegiatan ini sebagai upaya “mencari keberkahan.” Kalimat yang mungkin terdengar klise.
Tapi di tengah industri media yang makin keras, keberkahan memang menjadi barang mahal. “Kami ingin usia 22 tahun ini diisi dengan kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.
“Berbagi takjil menjadi cara sederhana untuk mendekatkan Radar Tasikmalaya dengan masyarakat sekaligus menebar keberkahan di bulan Ramadan.” tambahnya.
Baca Juga:Pendapatan Konser Musik di Kota Tasikmalaya Sering Bocor, Pemkot Dorong Skema Bayar Pajak di MukaGerhana Bulan Total di Ramadan, BHRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Warga: Jangan Cuma Foto Tapi Shalat
Sebab media bukan hanya tentang berita keras dan tajam. Kadang ia juga perlu lembut. Perlu hadir di tengah warga—bukan hanya saat ada konflik, tapi juga saat ada senyum.
Hakim berharap sinergi dengan Gandara Group tidak berhenti di kolak Ramadan. Dunia usaha dan media, katanya, bisa menjadi kombinasi yang saling menguatkan—asal niatnya sama: memberi dampak bagi lingkungan sekitar.
Pembagian takjil sore itu berlangsung tertib. Tidak ada dorong-dorongan. Tidak ada rebutan. Dalam waktu relatif singkat, 1.000 paket habis. Seperti air yang menemukan jalannya sendiri.
Barangkali karena yang dibagikan bukan hanya kolak. Tapi rasa diperhatikan. HUT ke-22 Radar Tasikmalaya sendiri jatuh tepat 1 Maret. Sebelumnya, Minggu sore, jajaran direksi, manajerial, dan karyawan berkumpul di ruang redaksi. Tidak di hotel berbintang. Tidak dengan tata lampu megah.
Hanya pengajian dan buka puasa bersama. Sederhana. Tapi hangat. Di ruang yang setiap hari dipenuhi suara ketikan dan dering telepon itu, sore itu yang terdengar justru doa. Ada harapan agar media ini tetap tegak. Tetap kritis. Tapi juga tetap peduli.
Dua puluh dua tahun bukan waktu yang pendek. Tapi perjalanan belum selesai. Dan mungkin, memang begitulah seharusnya ulang tahun dirayakan: bukan dengan meniup lilin, melainkan meniupkan semangat berbagi.
Kolak boleh habis dalam sejam. Tapi niat baik—mudah-mudahan—tidak ikut larut bersama manisnya santan. (red/firgiawan)
