Predikat “Menuju Kota Bersih Tingkat Nasional” Kota Banjar Dipertanyakan Mahasiswa

sampah Kota Banjar
Truk pengangkut kontainer sampah saat berhenti di Jalan Gerilya pekan lalu. (Anto Sugiarto/radartasik.id)
0 Komentar

“Kami hadir, tidak untuk menjatuhkan. Tapi kami juga tidak akan menjadi penonton yang ikut larut dalam tepuk tangan,” ujarnya.

Tugas gerakan mahasiswa adalah menjaga agar pemerintah tidak terlena oleh simbol. Banjar tidak butuh klaim keberhasilan yang prematur. Banjar butuh keberanian membenahi sistem sampai ke akar, bukan sekadar mempercantik laporan evaluasi.

Sebelumnya, Pemkot Banjar baru saja menerima penghargaan ‘Menuju Kota Bersih Tingkat Nasional Tahun 2025’ dari Kementerian Lingkungan Hidup RI.

Baca Juga:Admin Kominfo Juga Manusia!Kepala MAN 1 Tasikmalaya Berganti, H Husen Digantikan H Eka Mulyana

Namun, itu berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Seperti yang dikatakan salah seorang warga yang sedang berolahraga. Dia menemukan sampah plastik botol minuman hingga dedaunan kering berserakan di kawasan Banjar Water Park (BWP).

Dirinya kecewa dengan kondisi itu. Padahal dulu kawasan BWP nyaman dijadikan tempat berolahraga sekaligus bersantai.

“Saat ini kondisinya jauh berbeda dengan yang dulu. Tidak bisa istirahat sambil santai di tempat yang biasanya enak untuk nongkrong sejenak melepas penat seharian usai beraktivitas,” pungkasnya.

Aktivis sekaligus pemerhati sosial Irwan Herwanto menilai penghargaan yang baru diraih lebih banyak didapat dari sisi administrasinya.

“Piala yang diraih Pemkot Banjar itu plakat, sertifikat itu hanya kertas. Akan tetapi bau sampah dan karat kontainer rusak itu realitas yang nyata,” tegasnya.

Menurutnya, penghargaan yang diraih Pemkot Banjar tersebut hanya menjadi ‘kosmetik politik’. Tanpa diiringi dengan perbaikan nyata pada layanan kebersihan.

Apa yang diraih Kota Banjar merupakan apresiasi formal, namun data pengelolaan sampah menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Baca Juga:Pulang Naik Bus Budiman, Bupati Tasikmalaya Seperti Nostalgia!Kuota Penukaran Ludes, Warga Kota Tasikmalaya Bingung Mencari Uang Pecahan untuk THR Lebaran

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang didaur ulang (recycling rate) baru mencapai 45,96 persen.

“Artinya, lebih dari separuh sampah di Kota Banjar, yaitu sebesar 54,04 persen belum berhasil didaur ulang sama sekali,” tegasnya.

Kemudian, penanganan sampah sudah di angka 70,84 persen. Akan tetapi, masih ada sekitar 29,16 persen sampah yang belum tertangani dengan baik. Lalu pengurangan sampah baru mencapai 23,26 persen

Menurut Irwan, angka-angka tersebut jelas menunjukkan bahwa perjalanan Kota Banjar menuju ‘kota bersih’ masih sangat jauh dan butuh perjuangan. (Anto Sugiarto)

0 Komentar