RADARTASIK.ID— Menjelang keberangkatan ke Surabaya, manajemen Persib Bandung memilih menyampaikan pesan penting untuk Bobotoh.
Mereka tidak sedang meredam cinta, melainkan mengarahkannya agar tetap menyala tanpa membakar apa pun.
Pada pekan ke-24 Super League 2025/26 di Stadion Gelora Bung Tomo, ketika Maung Bandung dijadwalkan menghadapi Persebaya Surabaya, para pendukung setia—yang menamai diri Bobotoh—diminta untuk tetap berada di kota masing-masing.
Baca Juga:Bakar Semangat Skuad Persib, H Umuh Muchtar Ingatkan Kekuatan Persebaya Surabaya: Jangan Anggap EntengPersib Kelola Sampah Stadion GBLA Melalui Pendekatan Zero Waste to Landfill, Hasilnya Sungguh Luar Biasa
Imbauan itu bukan lahir dari kekhawatiran yang tak beralasan, melainkan dari kepatuhan pada aturan yang telah digariskan.
Regulasi Liga 1 2025/26 Pasal 5 tentang Keamanan dan Kenyamanan Ayat 7, serta Pasal 141 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023, secara tegas melarang kehadiran suporter tim tamu di stadion.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, cinta harus tunduk pada tata tertib, sebab pelanggaran sekecil apa pun dapat berujung sanksi yang tak ringan bagi klub.
Head of Communications PT Persib Bandung Bermartabat, Adhi Pratama, menilai bahwa dukungan paling bermakna pada saat seperti ini adalah kesediaan untuk saling menjaga.
Ia memandang ketaatan terhadap regulasi sebagai wujud cinta yang dewasa—cinta yang tidak memaksakan kehendak, melainkan melindungi yang dicintainya dari kemungkinan hukuman.
“Kami mengajak Bobotoh untuk saling menjaga. Mari kita tunjukkan besarnya cinta kita kepada Persib dengan mematuhi aturan,” ujar Adhi Pratama.
Dalam pandangannya, niat baik mendukung tim tidak seharusnya berubah menjadi sebab datangnya sanksi bagi klub kebanggaan.
Baca Juga:Fantastis, Selalu Menang, Persib Cetak 22 Gol di GBLA dan Hanya Kebobolan 1 dalam 12 Pertandingan KandangBeckham Putra Bicara Modal Persib Hadapi Persebaya Usai Pesta Gol ke Gawang Madura United 5-0
Karena itu, energi besar yang selama ini menggetarkan tribun disarankan untuk dialihkan ke ruang-ruang yang tetap hangat namun tertib.
Nobar resmi di berbagai kota, atau kebersamaan sederhana bersama keluarga di depan layar kaca, dianggap sebagai bentuk dukungan yang tak kalah berarti.
Manajemen meyakini bahwa doa dan harapan yang dipanjatkan dari kejauhan tetap akan menemukan jalannya menuju hati para pemain di lapangan.
Lebih dari sekadar imbauan, harapan itu adalah ajakan untuk membangun kesadaran bersama.
Di saat Persib Bandung tengah berjuang di papan atas klasemen, kekuatan kolektif para pendukung diharapkan hadir sebagai penopang moral, bukan sebagai persoalan baru di luar lapangan.
