Naik kendaraan umum: dianggap merakyat.
Naik kendaraan milik perusahaan lokal: bisa dianggap dukungan bisnis.
Simbol-simbol itu yang membuat perjalanan biasa menjadi diskursus.
Apalagi Bus Budiman bukan sekadar perusahaan otobus. Ia bagian dari identitas orang Tasikmalaya. Nama yang diwariskan almarhum H. Saleh Budiman. Ikon transportasi Priangan Timur.
Ketika bupati naik Budiman, sebagian orang melihat nostalgia. Sebagian lagi melihat pesan politik lokalitas. Sebagian lagi sekadar melihat kursi empuk AC dan lampu kabin temaram.
Kita membayangkan suasana malam itu.
Bupati duduk di kursi bus. Mungkin di baris tengah. Mungkin di depan. Tidak ada protokoler yang terlalu kaku. Tidak ada ajudan berdiri tegap seperti di mobil dinas.
Baca Juga:Kuota Penukaran Ludes, Warga Kota Tasikmalaya Bingung Mencari Uang Pecahan untuk THR LebaranPotensi Perputaran Uang MBG di Kota Tasikmalaya Bisa Tembus Rp 300 Miliar Pertahun!
Bus melaju pelan di jalur selatan. Lampu-lampu kota berderet. Penumpang lain mungkin baru sadar di tengah perjalanan bahwa yang duduk beberapa kursi dari mereka adalah kepala daerah.
Di situlah letak keindahannya. Transportasi umum itu demokratis. Semua duduk sama tinggi. Namun di era media sosial, romantika cepat berubah jadi polemik.
Padahal cerita ini bisa dibaca sederhana:
Seorang bupati yang kehabisan tiket kereta cepat, lalu pulang dengan bus yang dulu menemaninya semasa kuliah.
Sebuah lingkaran hidup yang kembali ke titik awal. Yang lebih penting dari moda transportasi adalah pesan yang tersirat: Bahwa fasilitas negara boleh dipakai sesuai aturan. Bahwa pilihan pribadi tetap boleh ada ruangnya. Bahwa kepala daerah juga manusia — bisa kehabisan tiket.
Dan mungkin, di antara deru mesin bus itu, ada rasa yang tak tergantikan oleh kereta 300 km/jam: rasa pulang. Sensitivitas publik memang perlu. Itu tanda kontrol sosial hidup.
Tapi kadang kita juga boleh menikmati kisahnya sebagai nostalgia. Karena tidak semua perjalanan pejabat harus ditafsirkan sebagai strategi. Kadang itu hanya perjalanan. Kadang itu hanya rindu pada masa kuliah. Kadang itu hanya ingin merasakan lagi kursi bus Budiman yang dulu. Dan Tasikmalaya, seperti biasa, punya cerita bahkan dari sebuah tiket yang habis. (red)
