Potensi Perputaran Uang MBG di Kota Tasikmalaya Bisa Tembus Rp 300 Miliar Pertahun!

DUIT MBG di kota tasik
Gambar ilustrasi: AI.ChatGPT
0 Komentar

Kata Apep, Kalau Rp300 miliar hanya lewat seperti angin, Kota Tasik akan tetap ngos-ngosan. Tapi kalau uang itu berputar tiga sampai empat kali dalam setahun, efeknya bisa seperti hujan panjang di musim kemarau. Masalahnya tinggal satu: koordinasi.

Program pusat sering datang dengan sistemnya sendiri. Vendor sudah ditentukan. Pola belanja sudah dikunci. Di situlah daerah harus cerdik. Regulasi jangan dilanggar. Tapi celah kolaborasi harus dicari.

Bappelitbangda membaca ini bukan sekadar proyek makan siang. Ini mesin ekonomi.

Baca Juga:Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Lawan Jawa Pos soal Kepemilikan Saham Radar BogorDiduga Akun ASN Kota Tasikmalaya Jadi “Buzzer Dadakan” Bela soal Video Bapelitbangda!

Sebab Kota Tasikmalaya pernah hidup dari industri rumahan. Bordir. Payung geulis. Kerajinan. Sekarang peluangnya beda. Dapur sekolah. Kadang ekonomi bangkit bukan dari pabrik besar. Tapi dari piring makan.

Apep menyebutnya sederhana: jangan sampai Kota Tasik hanya jadi tempat makan. Kalimat itu pendek. Tapi dalam.

Sebab kalau hanya jadi tempat makan, ya selesai di situ. Anak-anak kenyang. Ekonomi lewat. Tapi kalau Kota Tasik bisa menjadi tempat produksi, distribusi, dan konsumsi sekaligus—barulah Rp300 miliar itu terasa.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: ada uang atau tidak. Tapi: uang itu berputar di mana? Di Kota Tasik atau di luar Tasik.

Di situlah pertaruhan sesungguhnya. (red)

0 Komentar