Program sebesar ini tidak boleh asal jalan. Makan bergizi bukan sekadar kenyang. Ada standar protein, karbohidrat, serat, hingga keamanan pangan.
Kalau dikelola dengan benar, MBG bukan hanya memperbaiki kualitas gizi generasi muda. Ia memperbaiki struktur ekonomi kota.
Kota Tasikmalaya selama ini dikenal dengan bordir, payung geulis, dan industri rumahan. Sekarang mungkin waktunya dikenal dengan satu hal baru: kota yang mampu mengelola dapur raksasa bernilai ratusan miliar rupiah per tahun.
Baca Juga:Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Lawan Jawa Pos soal Kepemilikan Saham Radar BogorDiduga Akun ASN Kota Tasikmalaya Jadi “Buzzer Dadakan” Bela soal Video Bapelitbangda!
Dapur bukan lagi ruang belakang. Ia bisa menjadi pusat pertumbuhan. Rp 300 miliar itu sekarang masih berupa potensi.
Ia bisa menjadi peluang emas. Bisa juga menjadi angka yang hanya lewat di laporan.
Pilihan ada di tangan kita. Apakah Kota Tasikmalaya hanya akan menjadi tempat makan?
Kepala Bapelitbangda Kota Tasikmalaya Apep Yosa Firmansyah, angkat suara.
Tidak meledak-ledak. Namun mengiyakan. Karena prediksinya bisa tembus Rp300 miliar setahun.
Itu bukan angka APBD. Bukan pula dana transfer pusat yang sering datang lalu dipotong. Itu perputaran uang dari satu program: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hanya di Kota Tasikmalaya. Tiga ratus miliar rupiah. Setahun. Untuk makan. Angka itu bahkan lebih besar dari TKD yang hilang akibat pemangkasan. Selama ini orang sibuk menghitung apa yang berkurang. Apep memilih menghitung apa yang bisa diputar. “Ini peluang,” begitu kira-kira pesannya.
Tapi peluang selalu punya syarat. Jangan sampai uangnya mampir sebentar. Lalu kabur. Bayangkan begini. Program berjalan. Dapur-dapur memasak. Anak-anak sekolah makan. Uangnya cair. Tapi berasnya dari luar kota. Lele-nya dari kabupaten tetangga. Cabainya dari Jawa Tengah. Tomatnya dari entah mana.
Baca Juga:Video Unboxing Bapelitbangda Kota Tasikmalaya Dihapus, Sensitivitas Dipertanyakan!Tasikmalaya Kaget, Lagi!
Yang kenyang siapa? Anak-anak Tasik, iya. Tapi ekonominya? Bisa jadi daerah lain.
Tasik hanya jadi tempat makan. Yang kenyang betulan justru produsen luar.
Itulah yang ingin dihindari. Lele, nila, cabai, tomat, sayuran—semuanya bisa dipasok petani lokal. Sawah ada. Kolam ada. Petani ada. Tinggal mau atau tidak merajutnya.
Rantai produksi hulu-hilir harus terjadi di dalam kota. Dari benih ditebar. Pakan dibeli dari toko lokal. Dipanen warga sendiri. Diolah dapur setempat. Diantar oleh UMKM lokal. Uangnya berputar. Dari sekolah kembali ke pasar. Dari pasar kembali ke petani. Dari petani kembali ke warung.
