TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Angka itu terdengar seperti angka proyek jalan tol.
Rp 300 miliar. Tapi ini bukan soal beton. Bukan pula soal gedung bertingkat.
Ini soal nasi, lauk, sayur, dan segelas susu. Setahun.
Itulah potensi perputaran uang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tasikmalaya. Kami pun mencoba membaginya. Rp 300 miliar dibagi 12 bulan. Sekitar Rp 25 miliar per bulan. Dibagi 20 hari sekolah. Lebih dari Rp 1 miliar per hari. Satu hari.
Baca Juga:Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Lawan Jawa Pos soal Kepemilikan Saham Radar BogorDiduga Akun ASN Kota Tasikmalaya Jadi “Buzzer Dadakan” Bela soal Video Bapelitbangda!
Artinya, setiap pagi, lebih dari satu miliar rupiah bisa bergerak hanya untuk urusan makan siang anak-anak sekolah. Ini bukan angka kecil bagi kota sekelas Tasikmalaya.
Selama ini kita sering sibuk menghitung apa yang hilang: dana transfer berkurang, belanja dipangkas, proyek ditunda. Kali ini, ada yang justru datang sebagai peluang.
Tapi peluang selalu punya dua wajah.
Wajah pertama: optimisme.
Wajah kedua: kebocoran.
Kalau Rp 300 miliar itu hanya lewat seperti bus antarkota—berhenti sebentar lalu melaju lagi ke luar daerah—Kota Tasikmalaya hanya jadi terminal. Ramai, tapi tidak kaya.
Namun kalau uang itu berputar di dalam kota, ceritanya berbeda. Bayangkan rantainya. Petani di pinggiran kota menanam cabai dan tomat karena ada kepastian pembeli.
Peternak ikan lele dan nila memperbesar kolamnya karena ada kontrak tetap. Peternak ayam meningkatkan produksi karena permintaan stabil. UMKM katering tumbuh karena dapurnya dipakai setiap hari.
Itu bukan sekadar makan gratis. Itu mesin ekonomi. Sebab ekonomi lokal hidup bukan karena angka besar semata, tapi karena perputaran. Uang yang sama bisa menciptakan nilai berkali-kali kalau ia tidak pergi jauh.
Satu rupiah yang dibelanjakan di pasar lokal bisa menjadi pendapatan pedagang. Lalu pedagang belanja lagi di warung sebelah. Warung itu bayar pekerja. Pekerja belanja di pasar lagi.
Baca Juga:Video Unboxing Bapelitbangda Kota Tasikmalaya Dihapus, Sensitivitas Dipertanyakan!Tasikmalaya Kaget, Lagi!
Begitulah ekonomi bekerja. Rp 300 miliar bisa terasa seperti Rp 300 miliar saja.
Tapi bisa juga terasa seperti Rp 600 miliar, bahkan lebih—kalau efek gandanya berjalan.
Masalahnya tinggal satu: kesiapan.
Apakah produksi lokal cukup?
Apakah kualitasnya memenuhi standar gizi? Apakah distribusinya rapi dan tepat waktu?
