TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kaderisasi pelajar di Kota Tasikmalaya kembali disorot. Di tengah laju perubahan sosial dan teknologi yang kian ngebut, pembinaan dinilai belum sepenuhnya bergerak seirama zaman.
Sistem kaderisasi dituntut lebih terstruktur agar tidak hanya melahirkan kader banyak jumlahnya, tetapi juga matang secara karakter, intelektual, dan komitmen kebangsaan.
Isu itu mengemuka dalam diskusi panel peringatan Hari Lahir ke-72 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Gedung PCNU Kota Tasikmalaya, Jalan dr Soekardjo, Kecamatan Tawang, Rabu malam (25/2/2026).
Baca Juga:RSUD Dewi Sartika Disebut Monumen Gagal Rencana, Aktivis NU Soroti Proyek Kesehatan di Kota TasikmalayaKapolda Jabar Ingatkan Asrama Polisi Bojong Kota Tasikmalaya Bukan Kos-Kosan, Tapi Amanah
Sekretaris PCNU Kota Tasikmalaya, KH Abun Sulaeman, menegaskan IPNU menempati posisi strategis sebagai pintu masuk kaderisasi Nahdlatul Ulama.
Karena itu, pembinaan tidak boleh berjalan asal hidup, apalagi hanya mengandalkan rutinitas seremonial tahunan.
“Sebagai badan otonom pelajar, IPNU adalah ujung tombak kaderisasi NU. Dari rahim IPNU lahir generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan perjuangan organisasi,” ujar Abun.
Menurutnya, penguatan kaderisasi harus menitikberatkan pada tiga pilar utama: pembentukan karakter, kecerdasan intelektual, dan komitmen kebangsaan. Ketiganya harus berjalan seimbang, bukan timpang ke satu sisi saja.
Momentum 72 tahun IPNU, kata Abun, seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolik.
“Jangan cuma jadi seremoni foto bersama dan potong tumpeng. Ini harus jadi ruang refleksi untuk memperkuat soliditas dan kualitas gerakan,” sindirnya.
Sementara itu, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Kota Tasikmalaya, Asep Endang M Syams, menyoroti pentingnya penataan distribusi kader yang lebih sistematis.
Baca Juga:Empat BPR Dilebur Jadi Satu: OJK Konsolidasikan Perbankan Priangan TimurPencairan Dana BOS dan TPG Telat Lagi: Guru Madrasah Diminta Profesional, Negara Masih Belajar Tepat Waktu
Ia menilai potensi kader IPNU di Kota Tasikmalaya cukup besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan penguatan kapasitas dan literasi digital.
“Ke depan arah distribusi kader harus lebih terarah dan sistematis. Loyalitas dan dedikasi kader IPNU itu luar biasa, tapi jangan sampai semangat besar tidak dibekali kemampuan yang memadai,” tuturnya.
Asep menegaskan, kaderisasi tidak boleh berhenti pada urusan jumlah. Kualitas tetap menjadi harga mati.
“Proses kaderisasi tidak cukup menghasilkan banyak kader, tetapi harus mencetak kader yang punya kapasitas, integritas, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.
