TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Budayawan Kota Tasikmalaya, Tatang Pahat, melontarkan kritik sekaligus gagasan tajam soal nasib Situ Gede yang dinilai memiliki potensi budaya besar namun seperti terlupakan di tengah hiruk-pikuk seremoni tahunan.
Menurut Tatang, semangat Prasasti Geger Hanjuang seharusnya menjadi pijakan dalam memandang masa depan Kota Tasikmalaya.
Sejarah, kata dia, bukan sekadar catatan masa silam, melainkan kompas untuk membaca masa kini dan merancang masa depan.
Baca Juga:Ramadan 2026, Bank Indonesia Siapkan Rp2,55 Triliun untuk Penukaran Uang di Wilayah Tasikmalaya Satgas Pajak Konser Mengemuka, Diky Candra: Jangan Sampai Musik Ramai, PAD Sepi di Kota Tasikmalaya
“Situ Gede bukan cuma objek wisata. Ia punya daya magis dan nilai sejarah yang ikut membentuk Tasikmalaya seperti sekarang. Sayang, potensinya belum benar-benar digarap sebagai ruang budaya,” ujar Tatang, Jumat (27/2/2026).
Ia mengusulkan agar peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya pada Oktober mendatang tidak hanya diisi seremoni rutin, melainkan dibuka dengan peristiwa budaya bertajuk Situ Gede Art Festival.
Konsepnya berbasis pendekatan antropologi dan sosiologi, dengan mengangkat folklor, mitologi, sejarah, serta kebiasaan masyarakat ke dalam bahasa pertunjukan seni.
Menurutnya, festival itu bisa menjadi ruang pertemuan antara budaya tradisi dan ekspresi kekinian tanpa kehilangan nilai lokal.
“Budaya jangan hanya dipajang, tapi dimaknai. Jangan cuma jadi latar foto, tapi jadi ruang dialog,” katanya.
Tatang juga menyoroti peran Pemerintah Kota Tasikmalaya yang dinilai harus lebih proaktif sebagai penggerak budaya, bukan sekadar penonton.
Ia menyebut wali kota idealnya menjadi bapak angkat bagi kelompok-kelompok seni dan budaya di masyarakat.
Baca Juga:RSUD Dewi Sartika Disebut Monumen Gagal Rencana, Aktivis NU Soroti Proyek Kesehatan di Kota TasikmalayaKapolda Jabar Ingatkan Asrama Polisi Bojong Kota Tasikmalaya Bukan Kos-Kosan, Tapi Amanah
“Macetnya komunikasi budaya hari ini karena budaya sering dipahami sebatas bisnis. Nilainya hilang, yang tersisa hanya panggung dan anggaran,” sindirnya.
Ia menambahkan, budaya sejatinya proses memanusiakan manusia. Namun saat ini, nilai tersebut kerap tergadai oleh kepentingan pribadi dan golongan, bahkan politik balas budi.
Akibatnya, ruang dialog budaya menyempit, kreativitas mati suri, dan sinergi antar elemen masyarakat melemah.
“Masyarakat berharap banyak pada pemerintah. Tapi sejatinya tanggung jawab budaya bukan hanya seniman, melainkan kita semua. Kalau tidak, yang terjadi bukan penguatan nilai, tapi pergeseran budaya,” tegasnya.
Tatang berharap gagasan Situ Gede Art Festival bisa menjadi pintu pembuka kebangkitan budaya Kota Tasikmalaya yang selama ini stagnan.
