RADARTASIK.ID— Laga Persib Bandung melawan PSBS Biak memang menghadirkan adrenalin, tetapi di balik sorak yang berlapis-lapis, tersimpan cerita lain yang lebih sunyi—tentang kesadaran, disiplin, dan tanggung jawab.
Stadion GBLA menjadi saksi bahwa sepak bola bisa berpihak pada masa depan, bukan hanya pada papan skor.
Di sela nyanyian Bobotoh, Minggu sore itu, 25 Januari 2026, Gelora Bandung Lautan Api tidak sekadar dipenuhi gegap gempita. Namun oleh kerja kolaboratif bergerak rapi.
Baca Juga:Persib Menghidupkan Mesin Harapan, Federico Barba Yakin Bisa Mengejar Keteringgalan 3-0 dari Ratchaburi FC Jelang Persib vs Ratchaburi FC, Ini Pesan Penting H Umuh Muchtar untuk Skuad Bojan Hodak
Hampir lima ton sampah—tepatnya 4.895 kilogram—dikelola secara menyeluruh melalui kemitraan Persib dengan Jubelo, mitra resmi pengelolaan limbah stadion.
Prinsip yang dipilih tegas: zero waste to landfill. Tidak ada sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Semua ditangani, dipilah, dan diproses dengan tujuan.
Angkanya bercerita. Sebanyak 1.555 kilogram sampah organik diolah menjadi pakan maggot dan kompos.
Lalu 1.958 kilogram sampah anorganik diarahkan ke fasilitas daur ulang untuk kembali bernilai guna.
Sisa 1.382 kilogram residu ditangani di fasilitas khusus sesuai kaidah lingkungan.
Proses ini ditopang oleh 42 personel lapangan, 445 kantong sampah, dan dua ritase pengangkutan—detail-detail yang jarang terlihat, tetapi menentukan.
Kepala Komunikasi PT Persib Bandung Bermartabat, Adhi Pratama, menempatkan inisiatif ini pada kerangka yang lebih luas.
Ia menekankan bahwa GBLA memiliki makna melampaui fungsi stadion.
Bagi Persib dan Bobotoh, tempat ini adalah rumah bersama—ruang tempat emosi, kebanggaan, dan sejarah bertumbuh.
Baca Juga:Kabar Baik Jelang Persib vs Ratchaburi FC, Beckham Putra Sudah Bisa Diturunkan LagiPersibday Festival Terasa Lebih Istimewa, Bos Persib Bersama Para Legenda Hadir Kompak
Karena itu, menurutnya, merawat GBLA semestinya setara dengan merawat rumah sendiri: dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab kolektif.
Ia juga menegaskan bahwa kebersihan bukan soal rupa semata, melainkan menyangkut kenyamanan, keselamatan, dan martabat klub profesional yang menjunjung keberlanjutan.
Apa yang terjadi pada laga melawan PSBS Biak bukanlah peristiwa tunggal.
Konsistensi menjadi kata kunci.
Dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, prinsip zero waste to landfill telah diterapkan dengan hasil yang terukur: 6.571 kilogram saat menghadapi Persija Jakarta; 2.948 kilogram kontra Borneo FC; 3.916 kilogram kala melawan Bangkok United; 3.872 kilogram saat bertemu Bhayangkara FC; 4.972 kilogram menghadapi PSM Makassar; 3.003 kilogram melawan Dewa United; 2.522 kilogram saat menjamu Lion City Sailors; 1.564 kilogram kontra Persebaya Surabaya; 1.903 kilogram saat menghadapi Persis Solo; serta 2.079 kilogram pada laga melawan Selangor FC. Angka-angka itu membentuk jejak—tentang keseriusan yang tidak musiman.
