Menata Rumah, Menata Politik!

Azis rismaya Mahpud
H Azis Rismaya Mahpud di kediamannya di Jakarta Selatan. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya diskusi panjang dengan H. Azis Rismaya Mahpud. Usianya 65 tahun. Diskusi itu berlangsung di rumahnya, di Jakarta Selatan.

Luas rumahnya sekitar 500 meter persegi. Cukup luas. Tapi yang terasa bukan luasnya. Melainkan ketenangannya.

Pemandangannya asri. Konsep rumahnya Jepang. Atau, kalau boleh saya sebut, konsep oshin. Sederhana. Tenang. Tidak banyak ornamen yang ingin pamer.

Baca Juga:Tampil Dominan, MAN 1 Tasikmalaya Segel Gelar Juara Kualifikasi Divisi 2 LFP 2026Lari Mundur Bernama Anggaran di Kota Tasikmalaya!

Rumah itu seperti mengajak siapa pun yang masuk untuk menurunkan suara hati, menata napas, lalu duduk.

Azis sedang menikmati hidupnya. Tapi menikmati hidup versi dia bukan berhenti. Justru sebaliknya: memberi makna.

Beberapa interior rumah ditatanya sendiri. Tidak sekadar memilih jadi. Ia ingin setiap sudut punya cerita. Punya rasa.

Di sela diskusi, Azis mengingatkan tentang kenikmatan hidup. Menurutnya, nikmat itu tidak salah.

Yang sering salah adalah cara menjaganya. Salah satu caranya, kata dia, dengan membentengi diri lewat agama.

“Kalau tidak ada benteng,” katanya pelan, “nikmat bisa berubah jadi bencana.” tambahnya.

Istrinya, Hj. Selly Syarifah, menyambut kami dengan kerendahan hati. Sangat humble. Ia menyajikan tomyam khas Jakarta. Bukan tomyan Korea.

Baca Juga:Lari dan Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya yang Dipertanyakan! (part 4-habis)Lari dan Suasana Batin Warga Kota Tasikmalaya (Part 3)

Tapi tomyam yang disesuaikan lidah dan suasana. Seperti rumah ini: terinspirasi dari luar, tapi tetap berpijak di sini.

Azis belakangan ini punya hobi baru, menata rumah. Ia turun langsung. Memeriksa detail. Mencontohkan penempatan. Mengoreksi.

Ia seperti arsitek dadakan. Tapi justru karena itu terasa hidup. Rumah itu bukan hasil gambar semata, melainkan hasil perenungan.

Menjelang akhir obrolan, pembicaraan bergeser ke makna hidup. Azis memotivasi siapa pun agar hidup selalu dibarengi ibadah. Supaya tidak tamak. Tidak serakah. Tidak sombong. Karena, katanya, hidup di dunia ini hanya sementara.

Menariknya, ia juga bicara soal politik. Dengan nada yang tenang. Menurutnya, politik sangat berdampak. Bahkan bisa sangat berfungsi—jika dijalankan dengan baik. Dengan hati. Dengan niat yang bersih.

“Politik itu alat,” katanya. “Kalau alatnya dipakai dengan benar, satu kota bisa berubah. Satu wilayah bisa naik kelas.” tambanhya.

0 Komentar