Komite SD Islam An Nahl Tasikmalaya Kenalkan Playrenting, Konsep Pola Asuh Tenang dan Harmonis

SEMINAR
Seluruh pengisi acara foto bersama dalam kegiatan parenting yang digelar Komite SD Islam An Nahl, Sabtu (7/2/2026). (Fitriah Widayanti/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah kompleksitas tantangan pengasuhan di era modern, Komite SD Islam An Nahl Tasikmalaya menggelar program parenting bertema Rahasia Pengasuhan yang Lebih Tenang dengan tagline Stop Marah, Mulai Tenang, Keluarga Bahagia di Hotel Cordela Suites Tasikmalaya, Sabtu (7/2/2026).

Acara ini guna membekali orang tua dengan pemahaman pengelolaan emosi dan komunikasi sehat demi terciptanya keluarga yang harmonis.

Kegiatan ini menghadirkan Fauzi Nugraha MPd MF PLY atau yang lebih dikenal dengan Ayah Abatasa, seorang praktisi parenting dan konselor keluarga sebagai pemateri.

Baca Juga:Raih Penghargaan APPBI 2026, Lucy Sosilawaty Optimistis Dorong Kemajuan Ritel DaerahGaungkan Edukasi dan Kepedulian Papua, JNE Dukung Film Anak “Teman Tegar: Maira”

Berbeda dengan seminar parenting pada umumnya, kegiatan ini mengusung konsep Playrenting, yakni metode belajar parenting yang dikemas melalui permainan dan interaksi, sehingga suasana lebih santai dan tidak terasa seperti seminar satu arah.

Ketua Komite SD Islam An Nahl, Siti Maya Shofya, mengatakan bahwa konsep tersebut dipilih karena dinilai lebih relevan dengan kebutuhan orang tua saat ini yang tidak lagi sekadar membutuhkan teori, melainkan ruang refleksi dan penyembuhan diri.

“Kita merasa para orang tua sekarang sebenarnya sudah hafal teori parenting. Tapi praktiknya, kenapa masih sulit? Ternyata ada sampah-sampah emosi yang belum dituntaskan. Jadi bukan sekadar tahu tidak boleh membentak anak, tapi yang belum beres itu diri kita sendiri,” ujarnya kepada Radar usai acara.

Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya berupa teori satu arah seperti seminar pada umumnya. Pemateri memadukan penyampaian materi dengan berbagai permainan interaktif serta sesi self-healing, sehingga peserta diajak terlibat aktif, merefleksikan pengalaman pribadi, dan memahami akar emosi dalam pola pengasuhan.

Suasana yang terbangun pun terasa lebih santai, cair, dan tidak menegangkan.

“Setelah mengikuti playrenting ini pertama jadi happy, beban menjadi lepas, menjadi lebih ringan, reflektif ke diri sendiri. Intinya apa yang harus aku lakukan, bukan harus segimana teori dan materi itu muncul ke otak kita, tapi yang dibutuhkan harus apa sih, harus bagaimana sih aplikasinya,” tuturnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Pemateri yang didatangkan dari Bandung dinilai mampu membangun suasana interaktif melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, sehingga para orang tua merasa lebih terbuka dalam berbagi pengalaman serta merefleksikan pola pengasuhan yang selama ini dijalankan.

0 Komentar