TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Satu abad bukan usia remaja. Nahdlatul Ulama (NU) memasuki umur 100 tahun dengan beban sejarah dan pekerjaan rumah yang kian berat.
Di Kota Tasikmalaya, peringatan Harlah NU ke-100 bukan sekadar nostalgia tentang masa lalu, melainkan alarm tentang tantangan abad kedua: radikalisme, arus digital, dan ketimpangan sosial yang tak kunjung jinak.
Ketua PCNU Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman SAg MSi, menegaskan bahwa sejak lahir pada 1926 oleh KH Hasyim Asy’ari, NU tidak pernah diniatkan sebagai kendaraan kekuasaan. NU berdiri sebagai benteng agama sekaligus pagar bangsa.
Baca Juga:Warga Ciamis Berhak Bahagia, Usai PSGC Dipastikan Lolos ke Liga 2 Pegadaian!Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per Kilogram
“Sejak awal NU bukan untuk merebut kekuasaan, tapi menjaga agama dan membela bangsa. Itu khitah yang tidak boleh tergeser,” ujar KH Dudu saat malam puncak peringatan Harlah NU ke-100 di Kota Tasikmalaya, Sabtu (7/2/2026) malam.
Namun, memasuki abad kedua, medan juang NU berubah rupa. Jika dulu melawan kolonialisme, kini NU harus berhadapan dengan radikalisme yang tumbuh dari ruang-ruang sempit tafsir agama, serta derasnya budaya global yang masuk lewat layar ponsel.
“Tantangan NU hari ini tidak ringan. Radikalisme masih nyata. Di sisi lain, digitalisasi dan budaya global berpotensi menggerus nilai din, akhlak, dan tradisi keilmuan,” terangnya.
KH Dudu mengingatkan, ancaman terhadap agama kini tidak selalu datang dengan senjata, tetapi dengan algoritma. Informasi berseliweran tanpa sanad, fatwa viral tanpa guru, dan kebenaran sering kalah cepat dari konten sensasional.
Di luar persoalan ideologi, NU juga masih bergulat dengan masalah klasik yang belum selesai: kemiskinan, ketimpangan sosial, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Bagi KH Dudu, penguatan kader menjadi kunci agar NU tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga di dapur-dapur rakyat.
“NU harus relevan. Tidak cukup menjaga tradisi, tapi juga memberi solusi nyata bagi umat,” tegasnya.
Baca Juga:Ekshibisi Tarung Lagga Striking Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Atlet Indoboxing Menuju Level NasionalNU 100 Tahun di Kota Tasikmalaya: dari Karnaval Budaya ke Agenda Peradaban
Ia menilai satu abad NU harus dibaca sebagai titik start baru, bukan garis finish.
NU, kata dia, mesti terus dirawat dengan keikhlasan, diperkuat dengan ilmu, dan dibuktikan dengan amal sosial yang bisa dirasakan langsung masyarakat.
