Program ini diarahkan untuk mengembangkan lahan tidur, memutus ketergantungan petani pada tengkulak dan meningkatkan produksi jagung nasional.
Pendampingan manajerial juga disiapkan agar petani mampu mengelola pinjaman KUR secara berkelanjutan, bukan sekadar menutup lubang tanam dengan lubang utang.
Polri menegaskan ketahanan pangan bukan hanya soal stok, tapi juga soal keadilan harga.
Baca Juga:Ekshibisi Tarung Lagga Striking Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Atlet Indoboxing Menuju Level NasionalNU 100 Tahun di Kota Tasikmalaya: dari Karnaval Budaya ke Agenda Peradaban
“Kalau panen melimpah tapi petani tetap miskin, berarti yang kenyang bukan ladang, tapi rantai distribusinya,” demikian nada kritik yang mengemuka dalam rakor tersebut.
Melalui konsolidasi program 2026, Polri berharap ekosistem pertanian jagung pakan ternak bisa lebih tertata—dan petani tidak lagi menjadi pemain paling lemah di pasar yang katanya nasional. (rls/rezza rizaldi)
