TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 di Kota Tasikmalaya digelar dengan rangkaian kegiatan sejak Jumat (6/2/2026) dan mencapai puncak acara pada besok Sabtu (7/2/2026).
Perayaan tahun ini tidak hanya menonjolkan kemeriahan, tetapi menegaskan isu utama penguatan ukhuwah dan regenerasi kader Nahdliyin.
Ketua Panitia Harlah NU Kota Tasikmalaya, Aan Farhan, mengatakan rangkaian kegiatan diisi berbagai musabaqah dan lomba antar Majelis Wakil Cabang (MWC) di tiap kecamatan.
Baca Juga:Instruksi Presiden Turun, Aksi Bersih Situ Gede Digeber Forkopimda Kota TasikmalayaGerindra Berusia 18 Tahun dan Cara Merayakan Kekuasaan!
Salah satunya lomba Muhafadzoh Alfiyah 500 bait yang diikuti peserta dari 10 MWC.
“Total ada enam kategori lomba. Besok juga ada karnaval, jampana, dan lomba tagoni. Antusias warga NU cukup tinggi, terlihat dari jumlah pendaftar di tiap MWC,” kata Aan.
Menurutnya, perayaan tahun ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya karena adanya dukungan hadiah, termasuk door prize umrah dari bjb Syariah. Ia menargetkan partisipasi warga mencapai 10 ribu orang.
“Tahun kemarin sekitar 7.000 peserta. Tahun ini targetnya 10.000, bahkan mudah-mudahan lebih. Ini menunjukkan semangat warga Nahdliyin semakin kuat,” terangnya.
Aan menegaskan tema utama Harlah NU ke-100 di Kota Tasikmalaya adalah memperkuat ukhuwah dan menjaga soliditas warga NU.
“Kami ingin menguatkan persaudaraan internal Nahdliyin, sejalan dengan tema besar PBNU, tapi diwujudkan lewat kegiatan nyata di daerah,” terangnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman, menekankan bahwa Harlah NU bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum penguatan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan regenerasi organisasi.
Baca Juga:Diky Candra: Wakil Tak Punya “Tanduk” Untuk Diadu, yang Penting Pemkot Tasikmalaya KompakH Amir Mahpud: Negarawan Itu Mengundang, Bukan Mengusir!
“Poin pentingnya adalah penguatan ideologi Aswaja dan bagaimana NU menyiapkan generasi penerus yang mampu berkontribusi membangun peradaban melalui pendidikan, pesantren, sekolah, dan madrasah,” tuturnya.
Ia menyebut NU harus hadir tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial yang menyentuh langsung kesejahteraan umat, mulai dari kesehatan, sandang, pangan, hingga papan.
“Organisasi ini harus menjadi harapan masyarakat. NU tidak cukup bicara pengajian dan tahlilan, tapi juga bagaimana kesejahteraan warga Nahdliyin meningkat,” tambah Dudu.
Dudu juga menyoroti pentingnya nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian lingkungan dalam proses regenerasi NU.
