PANGANDARAN, RADARTASIK.ID—Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pangandaran mengakui soal limbah dari hotel di Pantai Barat Pangandaran. Namun, ditegaskan bahwa limbah tersebut bukan hanya berasal dari hotel saja.
Ketua PHRI Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana mengatakan, permasalahan limbah di kawasan wisata Pantai Pangandaran merupakan persoalan lama yang hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.
Menurutnya, hotel kerap dijadikan kambing hitam, meski hampir seluruh hotel sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).”Yang selalu jadi sasaran, pasti hotel. Padahal Pangandaran itu satu kawasan yang bercampur dengan rumah penduduk, WC umum, dan berbagai aktivitas lain yang juga menghasilkan limbah,” ungkapnya kepada Wartawan Selasa (3/2/2026).
Baca Juga:BSI Resmi Berstatus Persero: Tangguh di Layanan Pembiayaan Konsumer dan RitelKesigapan Kapolres Andi Membaca Arah Kota Tasikmalaya!
Ketika musim liburan atau hight season, lonjakan aktivitas wisatawan memang berpotensi membuat kapasitas IPAL hotel melampaui batas. “Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kontribusi limbah rumah tangga dan fasilitas umum yang masuk ke saluran drainase yang sama,” jelasnya.
Agus mengklaim PHRI sudah melakukan pengecekan di sejumlah saluran air di kawasan wisata Pantai Pangandaran. “Sumber limbah berasal dari berbagai titik, bukan hanya dari area hotel,” katanya.
Kata dia, akar persoalan justru terletak pada buruknya tata kelola drainase di kawasan wisata Pantai Barat Pangandaran.”Hujan sebentar saja pasti banjir. Ini menandakan drainase tidak berjalan dengan baik,” ucapnya.
Padahal secara geografis, Pangandaran memiliki karakter tanah berpasir yang harusnya mampu menyerap air dengan cepat.
Selain itu, kawasan wisata ini dikelilingi laut dan dilintasi sungai besar yang secara alami menjadi titik pembuangan air. “Kalau hujan deras 30 menit sampai satu jam saja sudah tergenang, itu tidak wajar. Sungai dan laut adalah titik terendah, tapi air hujan tidak terdistribusi dengan baik ke sana,” ujarnya.
Kondisi itu, tentu menguatkan dugaan bahwa sistem drainase di kawasan wisata Pangandaran belum berfungsi optimal.”Harusnya ada blueprint yang jelas. Saluran ke mana, titik terendah di mana, dan induknya dibuang ke mana. Itu sampai sekarang ini belum jelas,” ungkapnya.(Deni Nurdiansah)
