BANJAR, RADARTASIK.ID – Awal tahun 2026. Seharusnya ramai. Ribuan paket proyek seperti di Garut. Tapi kenyataannya? Banyak daerah di Priangan Timur masih sepi. Minim lelang. Minim gerak.
Pemotongan dana Transfer ke Daerah (TKD) biang keladinya. Anggaran dipangkas. Efisiensi? Mungkin. Dampaknya? Jelas terasa.
Di Kota Banjar, bagian barang dan jasa (Barjas) Setda memastikan tidak ada lonjakan signifikan dalam pengadaan barjas di awal tahun.
Baca Juga:Lari yang Berubah Makna di Kota Tasikmalaya! (Part 1)Gelorakan Kedisiplinan, 93 Sekolah Ikuti LKBB Grilya Mustofa Nasional di MAN 1 Tasikmalaya
“Tahun ini ada penurunan anggaran (dampak pemotongan TKD), sehingga tidak ada lonjakan pengadaan barang dan jasa,” kata Kepala Bagian Barjas Setda Kota Banjar, H Harun.
Data Rencana Umum Pengadaan (RUP) menunjukkan 427 paket sudah tayang. Tapi total nilai anggaran belum jelas. Masih dalam proses input oleh OPD masing-masing.
“Terkait total nilai anggaran pengadaan, nanti paling telat bulan Maret. Karena sekarang masih proses input data,” katanya.
Metode pengadaan? Macam-macam. Tender. Non-tender. E-purchasing. Hampir semua OPD aktif. Paket terbesar? Belanja alat dan bahan medis habis pakai di BLUD RSU Kota Banjar senilai Rp20 miliar dengan metode e-purchasing. Cepat, praktis.
“Sejauh ini belum ada paket gagal, karena belum proses (lelang). Prioritas pengadaan tergantung OPD masing-masing sesuai kebutuhan,” ujar Harun.
Di DPRD, Pj Ketua sementara Sutopo bilang rincian pengadaan di tiap OPD belum lengkap. Masih global. Masih teori.
“Jika dilihat saat pembahasan sudah sesuai kebutuhan, mana saja program atau kegiatan skala prioritas,” katanya.
Baca Juga:Logay, Nama yang Terlalu Banyak Gaya!Wajah Baru Pengurus PAC PDIP Tamansari, Imam Mulyana Isi Kursi Sekretaris
Harapannya jelas: OPD bekerja baik dan transparan. Supaya tidak ada masalah. Tapi pertanyaannya: Apakah manfaat sampai ke warga? (Anto Sugiarto)
