Forum tersebut tidak diarahkan pada penandatanganan komitmen resmi, melainkan sebagai ajakan merancang ide kolaboratif ke depan.
Menurut Arif, perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar.
“Mudah-mudahan di 2026 ini kita bisa mulai dari ide kecil yang bisa dieksekusi bersama dan memberi dampak,” ucapnya.
“Kadang satu persen yang kita lakukan sekarang, efeknya bisa luar biasa ke depan,” tukasnya.
Baca Juga:Mahasiswa Tuding Wali Kota Tasikmalaya Anti Kritik, Audiensi Molor Tanpa KepastianPetani Milenial Panen Cabai di Bungursari, Wakil Wali Kota Tasikmalaya: Harapan Baru dari Ladang Merah
Dalam kesempatan yang sama, Arif juga memaparkan keberadaan Siloka Lab, ruang pengembangan internal yang difokuskan pada peningkatan kualitas produk dan sumber daya manusia.
Ia mengungkapkan, sebagian besar karyawan Siloka bukan berasal dari latar belakang barista.
“Siloka Lab awalnya laboratorium internal. Karena kalau dilihat, hampir semua karyawan Siloka basic-nya bukan barista,” katanya.
Melalui Siloka Berkawan, diskusi tidak diarahkan pada capaian bisnis semata, melainkan pada pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana pelaku usaha lokal di Kota Tasikmalaya mau ikut menanggung dampak sosial dan lingkungan dari geliat industrinya sendiri.
Di tengah aroma kopi yang kian semerbak, persoalan sampah plastik dan kerja inklusif pun ikut menyeruak ke meja diskusi. Kota ini tak hanya menyeduh kopi, tapi juga sedang belajar menyeduh tanggung jawab. (ayu sabrina barokah)
