Dugaan Anggota DPRD Tertipu dalam Proyek Dapur MBG Membuka Tabir Konflik Kepentingan Wakil Rakyat

anggota DPRD Kota Banjar Tertipu
Seorang pelajar melintas di depan gedung DPRD Kota Banjar, Jumat 23 Januari 2026. (Anto Sugiarto/radartasii.id)
0 Komentar

Sutopo mengaku sempat mengikuti pertemuan dengan pihak yang menjanjikan penentuan titik pembangunan dapur MBG. Pertemuan tersebut berlangsung di salah satu kedai kopi di Kota Banjar menjelang akhir 2025. Namun saat itu, ia belum yakin karena belum ada kepastian yang jelas.

Ia mengungkapkan, pihak yang ditemuinya menjanjikan bantuan dengan mengaku memiliki kedekatan dengan orang di Badan Gizi Nasional (BGN). “Waktu itu sudah janjian ada yang siap bantu, katanya ada kenalan orang di BGN. Saya telat ikut pertemuan karena masih di jalan, tapi Eko sudah duluan (tiba), kemungkinan sudah lama ngobrolnya,” jelasnya.

Sutopo menambahkan, ia sempat menanyakan nominal uang yang diserahkan kepada pria berinisial I yang diduga sebagai pelaku penipuan. Ternyata jumlahnya cukup besar, yakni Rp100 juta pada tahap awal. Tidak lama berselang, diduga pelaku kembali meminta tambahan Rp100 juta, dan korban kembali mentransfer uang tersebut.

Baca Juga:Vonis Endang Juta Jauh dari Tuntutan, Kejati Jabar Ajukan BandingWakil Bupati Tasikmalaya dan Permintaan Secepat Kedipan Mata!

Sementara itu, Hendrik Purnomo mengaku mengenal diduga pelaku penipuan dari informasi mulut ke mulut karena ada pihak lain yang disebut berhasil mendapatkan titik pembangunan dapur MBG.

“Gimana ya ngomongnya, ini pakai jalur cepat (penentuan titik pembangunan dapur MBG) katanya dijanjikan 28 Desember 2025, lalu molor. Ditanya lagi nanti 30 Desember 2025 tapi malah jempling,” terangnya.

Hendrik mengaku sempat kembali menanyakan kepastian kepada diduga pelaku yang mengaku dekat dengan orang BGN. Namun setelah dijanjikan pada 3 Januari 2026, yang bersangkutan justru menghilang. Ia mengatakan niat awalnya hanya ingin membantu saudaranya di Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, untuk ikut menyukseskan program MBG, namun hingga kini tidak ada kejelasan.

Akhirnya, Hendrik bersama sejumlah korban lainnya mendatangi BGN pusat pada 14 Januari 2026 untuk mengadukan kasus tersebut. “Besaran yang ditransfer bervariasi, ada yang Rp100 juta, Rp125 juta bahkan yang paling besar Rp200 juta ke diduga pelaku penipuan,” ujarnya.

Diketahui, korban penipuan tidak hanya berasal dari Kota Banjar, tetapi juga dari wilayah Ciamis. Total terdapat 21 orang yang menjadi korban dalam kasus tersebut. “Sudah di LP (lapor polisi)-kan ke Polda Jabar, dikolektifkan karena korbannya banyak, ada 21 orang,” katanya. (Anto Sugiarto)

0 Komentar