Cabor Desak Kepastian Bonus Atlet Jelang Porprov Jabar, Bupati Tasikmalaya Diminta Memperhatikan Olahraga

Atlet Paralayang Kabupaten Tasikmalaya
Sebelas atlet paralayang berlatih di Pasirgowong, Desa Nanggewer, Kecamatan Pagerageung untuk mempersiapkan diri menjelang BK Porprov pada September mendatang. (Istimewa For Radartasik.id)
0 Komentar

Dampak keterlambatan bonus Porprov 2022 masih terasa hingga kini. Cabang Olahraga (Cabor) Selam menjadi salah satu yang paling merasakan akibat buruk dari ketidakpastian tersebut.

Ketua Cabor Selam Kabupaten Tasikmalaya, Hally Kemal Pasya, menilai keterlambatan bonus telah menjadi preseden buruk yang merusak kepercayaan atlet.

“Kondisi tersebut berdampak serius terhadap psikologis atlet dan stabilitas pembinaan cabang olahraga,” ujarnya.

Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona

Ia mengungkapkan, Kabupaten Tasikmalaya menjadi daerah terakhir dalam pencairan bonus Porprov 2022 dibanding kabupaten/kota lain di Jawa Barat. Akibatnya, tiga atlet potensial memilih hengkang dan membela daerah lain. Akhirnya dari Cabor Selam menjadi korban.

Tiga atlet pindah, dua ke Jawa Timur dan satu ke Kota Bekasi. Alasannya jelas, keterlambatan bonus dan pembinaan yang tidak berkelanjutan. Ironisnya, atlet yang pindah justru mencetak prestasi di daerah barunya.

Salah satunya, atlet atas nama Rara, berhasil meraih juara nasional nomor 3.000 meter dan 5.000 meter, serta medali emas Porprov Jawa Timur 2025. “Alhamdulillah sekarang mereka berprestasi. Bahkan kemarin juara nasional nomor laut,” ucapnya.

Menurut Hally, jika bonus dan pembinaan berjalan tepat waktu, Kabupaten Tasikmalaya seharusnya kini menikmati hasil dari keberadaan atlet-atlet nasional tersebut.

“Ini harus menjadi pembelajaran buat semua. Insyaallah kalau dengan Bupati yang sekarang, komunikasinya lancar. Apalagi kalau KONI sejalan dengan pemerintah daerah,” katanya.

Ia menegaskan, bonus atlet bukan sekadar soal nominal, melainkan bentuk penghargaan, kepastian, dan komitmen pemerintah terhadap perjuangan atlet.

Sorotan lain datang dari Ketua Cabor Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Kabupaten Tasikmalaya, Yusep Rustandi. Ia menegaskan bahwa cabor merupakan ujung tombak prestasi olahraga daerah, sehingga kepentingannya harus menjadi prioritas utama.

Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Salurkan 2.500 kWh Listrik Gratis untuk Warga Kurang Mampu di Tasikmalaya

“Pada intinya, sesama cabor mah miharepkeun hal anu sami, nyaeta kumaha prestasi Kabupaten Tasikmalaya tiasa optimal dina Porprov 2026, khususna pikeun cabang olahraga Anggar,” ujarnya.

Yusep menilai persoalan utama bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan lemahnya komunikasi dan manajerial. “Abdi tos sababaraha kali ngiringan Porprov, tos ka salapan kalina. Nu paling dipiharep ku cabor teh sabenerna lain ukur duit, tapi komunikasi jeung motivasi. Lamun komunikasi teu aya, kumaha cabor bisa jalan maksimal,” tegasnya.

0 Komentar