Di Bawah Lampu Kafe Kawalu Kota Tasikmalaya, Biru Persib Tak Pernah Padam

nobar Persib Bandung di Kota Tasikmalaya
Suasana nobar Persib Bandung di Suwaka Cafe Kawalu, Kota Tasikmalaya, Senin (5/1/2026) malam. Istimewa for Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Malam belum benar-benar turun ketika kawasan Kawalu Kota Tasikmalaya harimulai dipenuhi warna biru. Jersey Persib, syal, dan bendera kecil berkelebat di depan Suwaka Cafe.

Senin (5/1/2026) malam itu, kursi-kursi nyaris tak sempat dingin. Satu tujuan menyatukan mereka: menonton Persib Bandung bertarung melawan Persik Kediri.

Satu jam sebelum kick-off, Suwaka Cafe sudah berubah wajah. Bukan sekadar tempat ngopi, tapi rumah singgah para bobotoh.

Baca Juga:Alhamdulillah! Gaji ASN dan Guru Mulai Cair, Pemkot Tasikmalaya Janji TPG-THR Dibayar Besok KamisTunjangan Guru PAI Kota Tasikmalaya Masih Tertahan, AGPAII Sebut Masalah Sinkronisasi Kewenangan

Layar besar menyala, kopi dan camilan berpindah tangan, sementara obrolan tentang formasi, peluang gol, dan kenangan laga lama bersahutan di setiap sudut.

Begitu peluit awal dibunyikan, suasana mendadak tegang. Sorak sorai pecah setiap kali Persib menekan. Tangan mengepal, napas tertahan, mata tak lepas dari layar.

Ketika peluang emas tercipta, seisi kafe seolah serempak berdiri. Ada harap yang menggantung, ada cemas yang tak terucap.

Gol yang datang—dan balasan yang menyusul—membuat emosi naik turun seperti ombak. Skor 1-1 di papan layar terasa seperti jeda panjang antara kecewa dan penerimaan.

Namun tak ada caci, tak ada kemarahan. Yang terdengar justru tepuk tangan dan yel-yel: Persib… Persib… Persib.

“Menang itu harapan, tapi setia itu kewajiban,” ujar Ketua Viking Persib Kawalu, Arif Ogoy, usai pertandingan. Nada suaranya tenang, matanya masih menyimpan bara optimisme.

“Kita tentu ingin tiga poin. Tapi hasil imbang ini bukan akhir. Persib sudah berjuang. Tugas kami jelas, tetap mendukung, tetap percaya,” katanya.

Baca Juga:Transfer Tuntas, Pembayaran Tertunda: Banggar DPRD Kota Tasikmalaya Pasang AlarmTasikmalaya Terasa Lebih Dekat!

Di sudut lain, obrolan berlanjut. Ada yang menganalisis lini tengah, ada pula yang sekadar tersenyum sambil menyeruput kopi terakhir.

Nobar malam itu bukan hanya soal skor, melainkan perasaan memiliki—bahwa Persib adalah bagian dari hidup mereka.

Pemilik Suwaka Cafe, Gunawan, menyaksikan semuanya dengan rasa syukur. Kafe miliknya ramai, tapi tetap tertib. Riuh, tapi hangat.

“Antusiasmenya luar biasa. Ramai, tapi aman. Ini yang kami harapkan—kafe jadi ruang kebersamaan, bukan sekadar tempat nongkrong,” ujarnya.

0 Komentar