Dari Diplomasi ke Operasi Militer: Perubahan Sikap Trump terhadap Nicolas Maduro

Nicolas Maduro
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. (Nicolas Maduro/Instagram)
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awalnya tidak serta-merta memilih jalur kekerasan dalam menghadapi Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Enam bulan sebelum operasi militer yang berujung pada penahanan Maduro, Trump justru lebih condong pada pendekatan diplomatik dengan harapan tercapainya kesepakatan yang menguntungkan kepentingan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan di Ruang Oval pada Juli, Trump menyampaikan kepada para penasihatnya keinginan untuk melanjutkan negosiasi dengan rezim Caracas.

Baca Juga:Benarkah Harga Cat Ditentukan oleh Warna Pilihan? Ini Penjelasan Teknis yang Jarang DibahasJaga Performa Mesin Sepeda Motor Anda dengan Perawatan Radiator yang Tepat

Fokus utama pembicaraan saat itu adalah peluang bagi perusahaan minyak Amerika Serikat untuk memperoleh prioritas dalam pengelolaan minyak mentah Venezuela.

Trump menilai diplomasi masih menjadi opsi yang layak meskipun Maduro dikenal sebagai pemimpin otoriter.

Pendekatan tersebut mendapat penolakan dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Sejak lama, Rubio memperingatkan bahwa Maduro tidak dapat dipercaya dan bahwa aliran pendapatan minyak justru akan memperkuat cengkeraman kekuasaannya.

Meski menyadari penolakan itu, Trump tetap bersikeras menempuh jalur yang ia yakini paling menguntungkan bagi agenda pemerintahannya.

Situasi berubah drastis menjelang akhir Desember. Trump merasa frustrasi karena berbagai upaya untuk membujuk Maduro agar mundur dari jabatannya—dengan imbalan amnesti atas dugaan pelanggaran hukum—tidak membuahkan hasil.

Kondisi itu mendorong Presiden Amerika Serikat tersebut akhirnya menyetujui opsi militer.

Operasi kilat yang dilakukan dalam satu malam dan berakhir dengan penahanan Maduro di New York menjadi penanda perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Trump yang kini jauh lebih keras.

Baca Juga:Decluttering: AHM Ajak Gen-Z Ciptakan Lingkungan Lebih Hijau dan BerkelanjutanRekomendasi Dedicated Server Berbasis Data Center Indonesia

Dalam periode jabatan keduanya, Venezuela menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan strategis Trump.

Isu deportasi massal, perang melawan perdagangan narkoba, serta daya tarik cadangan minyak dan mineral Venezuela yang melimpah berpadu dengan tekanan dari kelompok garis keras di internal pemerintahan, termasuk Rubio, yang sejak lama mendorong penggulingan rezim Maduro.

Mantan pejabat Gedung Putih Elliott Abrams menilai Venezuela sebagai gambaran sempurna dari seluruh kekhawatiran utama pemerintahan Trump.

Ketertarikan Trump pada sumber daya alam Venezuela bahkan memicu persaingan di balik layar antara para penasihat dan pelobi industri energi terkait arah kebijakan Amerika Serikat di negara tersebut.

0 Komentar