“Namun Hleb menolak bergabung. Karena itu, akhirnya menjadi Ibra ditukar Eto’o plus 50 juta euro,” lanjutnya.
Keputusan itu menjadi salah satu transfer paling menentukan dalam sejarah Inter. Eto’o kemudian menjadi motor penting dalam perjalanan menuju treble winner 2010, sebuah capaian yang masih dikenang sebagai puncak kejayaan klub.
Sementara itu, Ibrahimovic hanya bertahan satu musim di Camp Nou, menandakan bahwa penilaian Barcelona terhadap nilai jual sang striker ternyata tidak sebanding dengan kontribusi Eto’o untuk Inter.
Baca Juga:Beppe Marotta Jadi Alasan Kuat Diego Simeone Bakal Latih Inter Milan di Masa DepanPunya “Orang Dalam”, AC Milan Siap Curi Striker Incaran AS Roma
Branca juga mengenang bagaimana Inter merekrut Maicon dari AS Monaco. Sang bek kanan asal Brasil dibeli dengan harga relatif murah, 6,5 juta euro (sekitar Rp 116 miliar)—nilai kecil jika dibandingkan pengaruh besarnya bagi tim.
“Saya mengikutinya saat di Monaco. Kami membayar harga yang tepat,” kata Branca.
“Waktu itu, pelatih Monaco, Guidolin, tidak terlalu merekomendasikannya, tapi karena alasan non-teknis. Pada akhirnya, Maicon justru menjadi salah satu pemain terpenting kami,” paparnya.
Maicon kemudian dikenal sebagai bek kanan yang eksplosif dan menjadi jantung permainan Inter era Mourinho.
“Dialah regista sesungguhnya. Berkat Maicon, Zanetti bisa berlari 15 km per pertandingan,” ujar Branca sambil tertawa.
“Kalau dibilang Maicon tidak banyak berlari? Dia berlari dengan kualitas,” terangnya.
Terakhir, Branca mengungkapkan kedatangan Wesley Sneijder yang juga menjadi bagian kesuksesan Treble Inter Milan.
Baca Juga:Bergomi Minta Manajemen Inter Beri Chivu Tiga Pemain Baru: Mereka Butuh Pemain Bertubuh BesarPaolo Di Canio: Inter Milan Butuh Sosok Seperti Maldini atau Vialli di Lapangan
Sang gelandang Belanda mendarat di Milan pada akhir bursa transfer musim panas 2009 dan Jose Mourinho langsung menugaskannya menghadapi derby melawan AC Milan.
“Begitu tiba, Mourinho memberinya sepatu dan berkata: ‘Tendangan bebas dan sepak pojok di derby, kamu yang ambil,’” kenang Branca.
Namun, proses mendatangkan Sneijder tidak mudah. Meski Inter menjadikannya target utama, Sneijder ragu meninggalkan Real Madrid. Butuh upaya diplomasi panjang, termasuk bantuan mediator Ernesto Bronzetti.
“Kami baru berhasil meyakinkannya di hari-hari terakhir. Bahkan, ia tidak ikut latihan terakhir sebelum derby karena masalah dokumen,” tuturnya.
