Yudi memastikan pihaknya tegas mendorong zona merah di jalur utama dan penataan shelter sebagai alternatif lahan PKL.
“Kita ingin Dadaha tetap nyaman sebagai pusat olahraga dan rekreasi, tapi juga mengakomodir pedagang secara lebih rapi,” pungkasnya.
Sejumlah warga sekitar Dadaha pun menyuarakan hal senada. Rina Marlina (34), warga Kelurahan Nagarawangi, mengeluhkan kemacetan yang sering terjadi.
Baca Juga:DLH Kota Tasikmalaya Gencarkan Patroli TPS Liar, Ajak Warga Sadar Membuang Sampah!Ratusan Sekolah Penerima BOS Kinerja di Priangan Timur Jadi Prioritas Pembelajaran Coding dan AI
“Kalau sore, weekend, itu macet sekali. Susah lewat. Apalagi kalau bawa anak-anak mau olahraga, malah repot cari jalan,” tuturnya.
Hal serupa diungkapkan warga lainnya, Deden Firmansyah (41). Menurutnya, PKL tidak dilarang berjualan, tapi harus lebih tertib.
“Kita juga butuh jajanan kalau ke Dadaha, tapi jangan sampai bikin jalan macet. Apalagi dekat Alun-Alun, kelihatan semrawut. Jadi bagus kalau benar-benar ditata,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kompleks Sport Center Dadaha yang sejak lama menjadi destinasi olahraga dan ruang rekreasi publik, kini menghadapi persoalan klasik. Wajahnya kian semrawut oleh menjamurnya pedagang kaki lima (PKL).
Bak peribahasa ada gula ada semut. Semakin lokasi itu dibenahi, gangguan ketertiban justru semakin melonjak. Ini jadi tantangan bagi kota metropolis dengan fenomena urban yang turut menyertai.
Di tengah geliat pembangunan sarana olahraga yang sudah rampung dibenahi, alun-alun yang disuntik miliaran rupiah sehingga kondisinya kian pangling, justru muncul problem baru. Trotoar kawasan utama Dadaha dipenuhi gerobak. Jalan utama juga tergerus oleh parkir dan lapak PKL.
Dari pantauan Radar, deretan gerobak jajanan atau camilan, memenuhi trotoar di sepanjang ruas utama Dadaha. Praktis, pejalan kaki kesulitan melintas. Tak jarang warga terpaksa turun ke badan jalan, sementara kendaraan roda dua dan empat berdesakan di ruas utama. Suasana ini membuat area yang semestinya tertata nyaman, malah terkesan semrawut.
Baca Juga:Ini Pesan Mendalam H Azies Rismaya Mahpud bagi Wali Kota Tasikmalaya!Di Kabupaten Garut, Mentor untuk Pembelajarna Koding dan AI Dibiayai Secara “Rereongan”
“Kalau untuk beli jajanan sih enak, dekat dan banyak pilihan. Tapi ya jadi bikin macet, apalagi pas sore rame banget. Trotoarnya juga sudah penuh sama gerobak,” ungkap Desy Widiastuti (32), warga Indihiang yang rutin berolahraga di Dadaha. (Firgiawan)