Soal Aturan Main Study Tour Sekolah, Plt Kadisdik Enggan Buka Suara

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan study tour telah dikeluhkan para orang tua ke anggota legislatif sebagai aspirasi.

Hal ini lantaran aktivitas belajar sambil rekreasi ini seringkali memerlukan biaya besar dan menjadi beban tambahan bagi orang tua.

Tidak jarang orang tua siswa sampai harus meminjam uang atau menggadaikan barang yang mereka punya demi memenuhi keinginan anak ikut study tour.

Terkait hal ini, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Nanang Suhara, enggan buka suara.

Baca juga: Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Natal dan Tahun Baru 2024, Ada Sembako Murah di Kota Tasikmalaya

Saat coba dihubungi oleh Radar, untuk menanyakan hak monitoring kepada sekolah-sekolah, Nanang justru melemparkan jawaban ke Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pria yang baru menjabat sebagai Plt Kadisdik selama satu pekan itu tak memberikan jawaban tentang aturan main study tour bagi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Tasikmalaya.

Kendati demikian, Nanang bukanlah orang baru di Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya. Sebelumnya, ia sudah menghabiskan satu tahun menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan sejak tahun 2022.

Aturan main study tour sebelumnya dijelaskan Kepala Bidang Pembinaan SMP, Asep Rusyadi.

Baca juga: Tren Kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya Mulai Menunjukan Penurunan

Ia menyebut poin-poin yang tertuang dalam Surat Edaran Pedoman Pelaksanaan Study Tour.

Salah satunya soal lokasi study tour itu sendiri yang ternyata ada batasan tertentu.

“Lokasi study tour baik untuk SD dan SMP Negeri serta SD dan SMP swasta dilaksanakn di wilayah Provinsi Jawa Barat,” ujarnya saat membacakan isi surat.

Surat yang sudah diedarkan sejak 18 Oktober 2022 itu, diyakini Asep sudah sampai ke sekolah-sekolah di Kota Tasikmalaya.

Baca juga: Study Tour Bebani Orang Tua, DPRD Kota Tasikmalaya Minta Dinas Pendidikan dan KCD Lakukan Pemantauan

“Seharusnya sudah tahu dan sudah baca,” ucapnya.

Kendati demikian, berdasarkan pantauan Radar, masih ada sekolah yang melakukan kunjungan belajar sekaligus piknik itu hingga ke luar Provinsi Jawa Barat.

“Memang kita akui yang memilih ke Yogyakarta atau hingga Solo, itu karena ongkos dan penginapan murah. Beda dengan study tour ke Bandung, kan penginapan juga destinasinya juga cukup mahal,” ungkap Asep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *