TASIK, RADSIK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat selama tahun ini telah terjadi 15 bencana gerakan tanah yang tersebar di beberapa kecamatan. Bahkan beberapa titik gerakan tanah sudah dilakukan pengkajian oleh Badan Geologi untuk mengetahui penyebab dan solusi yang harus diambil.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tasikmalaya Kurnia Trisna Somantri mengatakan, kabupaten menjadi salah satu daerah yang rawan bencana di Jawa Barat dan nasional. Karena berbagai potensi bencana di Kabupaten Tasikmalaya ada, mulai dari gunung api, tsunami, pergerakan tanah, longsor, banjir, gempa bumi dan bencana lainnya. “Kalau pergerakan tanah, tahun ini sudah terjadi 15 kali,” ujar dia kepada Radar, kemarin.

Lanjut Kurnia, secara rinci pergerakan tanah di Kabupaten Tasikmalaya terjadi di Cikalong, Cikatomas, Cibalong, Bantarkalong, Bojonggambir, Sondinghilir, Salawu, Puspahiang, Taraju, Salopa, Jatiwaras dan Pagerageung. “Memang setiap tahun selalu ada wilayah yang terjadi pergerakan tanah, seperti di Kecamatan Cibalong sudah yang kedua kalinya. Bahkan di Cibalong masih ada potensi gerakan tanah lainnya,” ujarnya, menjelaskan.

“Di Kabupaten Tasikmalaya juga ada histori pergerakan tanah yang paling parah, yakni di Parungponteng dan Sundawenang Salawu. Bahkan yang Salawu sudah dilakukan relokasi, hal itu berdasarkan rekomendasi dari Badan Geologi,” kata dia, menambahkan.

Lanjut dia, beberapa gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya tahun ini sudah dilakukan kajian oleh Badan Geologi. Hal itu dilakukan agar mendapatkan rekomendasi apa yang harus dilakukan dalam penanganan bencana alam tersebut. “Badan Geologi juga sudah mengeluarkan surat rekomendasi atas gerakan tanah yang terjadi tahun ini di Kabupaten Tasikmalaya,” ucap dia.

Gerakan tanah di Kecamatan Jatiwaras terjadi di empat desa, yakni Desa Kersagalih, Desa Mandalamekar, Desa Mandalahurip dan Desa Papayan. Berdasarkan peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada Agustus 2022 di Kabupaten Tasikmalaya.

Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi secara regional daerah bencana di Kecamatan Jatiwaras berada pada zona menengah-tinggi. Artinya, daerah ini memiliki potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. “Gerakan tanah lama dapat aktif kembali,” kata dia.

Kemudian, kata dia, faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di Jatiwaras yakni kemiringan lereng yang curam, material penyusunan lereng di lokasi bencana yang terdiri dari batuan lunak atau tanah pelapukan. Kemudian curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.

Lanjut dia, kesimpulan teknis dari Badan Geologi yakni masyarakat di sekitar lokasi harus meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah turun hujan deras. Penutupan retakan tanah menggunakan tanah lempung atau material kedap air kemudian dipadatkan. Kemudian penataan drainase harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air seperti ditembok atau menggunakan pipa dan diarahkan menjauhi daerah longsoran. Masyarakt harus selalu mengikuti arahan dari BPBD dalam penanganan bencana alam ini.

Lanjut dia, kemudian untuk gerakan tanah di Bantarkalong terjadi di Desa Parakanhonje dan Desa Pamijahan. Sedangkan untuk penyebab dan kondisinya saat ini hampir sama dengan di Kecamatan Jatiwaras. Untuk kesimpulan teknis dan rekomendasi gerakan tanah di Kecamatan Bantarkalong secara umum dikontrol oleh kondisi geologi serta kelerangan yang curam dengan curah hujan sebagai pemicu. “Gerakan tanah secara umum bertipe rayapan, amblesan dan longsoran dengan landaan yang bervariasi, tergantung tinggi lereng, kemiringan dan tata guna lahan,” ucap dia, menjelaskan.

Kemudian, kata dia, daerah tersebut menurut Badan Geologi masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan, terutama pada bagian-bagian yang sudah retak. “Kemudian Desa Pamijahan dapat berpotensi terjadi aliran bahan rombakan,” katanya.

Kata Kurnia, untuk rekomendasi teknis di Desa Parakanhonje, kawasan gerakan tanah diprioritaskan untuk tidak ditempati karena berpeluang terjadi gerakan tanah kembali. “Harus ekstra waspada apabila terjadi hujan lebat dan lainnya,” pungkasnya. (yfi)

 

[/membersonly]

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

 

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: