Sentra Kerajinan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya Sepi, Pengusaha Mulai Banting Setir Jualan Online

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sentra Kerajinan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya terus mengalami penurunan pengunjung sejak beberapa tahun ini. Pelaku usaha pun kian terpuruk dalam menyiasati merosotnya pembeli.

Kondisi tersebut pun diperparah dengan Pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Seperti dikatakan Ai Siti Nursobah (19), pengelola salah satu toko kerajinan di Sentra Kerajinan Rajapolah.

Dia menjelaskan saat ini penjualan di tokonya sedang menurun. Bahkan hampir semua toko di Sentra Kerajinan Rajapolah pun merasakan hal yang sama. Kondisi ini pun terjadi bertahun-tahun.

Baca juga: Perguruan Tinggi di Pangandaran Bakal Bertambah, Rencananya Akan Ada Kampus Kampus Ini

“Kalau sekarang mah sepi sih. Biasanya kan kalau Sabtu Minggu bisa diandelin. Rame gitu banyak pengunjung. Tapi sekarang Sabtu Minggu juga sama kayak hari-hari biasa. Omsetnya turun kalau sekarang mah,” ungkapnya kepada Radar, Selasa (6/2/2024).

Ai mengaku dalam sehari pendapatan rata-rata di hari biasa sekitar Rp 500.000. Sedangkan saat ramai pengunjung pendapatannya mencapai Rp 2-3 juta. Kalau sepi paling satu sampe dua ratus ribu,” katanya.

Sebelum pandemi Covid-19 dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp 1-2 juta dan di akhir pekan pendapatannya bisa mencapai Rp 5 juta. Selain membuka toko di Sentra Kerajinan Rajapolah, pemilik usaha tempat Ai bekerja juga menjualnya secara online.

Baca juga: Pembayaran Uang Ganti Rugi Tol Getaci Berlanjut, Desa di Garut Ini Pertama di Tahun 2024

Menurutnya penjualan secara online lebih ramai dibanding offline. “Rame terus. Per hari biasanya normal delapan juta. Kalau rame itu Senen Selasa, Jumat Sabtu biasa,” ujar Ai.

Pelaku usaha lainnya, Haris Batamia (51) juga mengeluhkan sepinya pengunjung yang datang ke Sentra Kerajinan Rajapolah sejak pandemi Covid-19. Sekarang omsetnya setelah covid ini tidak bisa dipastikan. Mau dapet uang Rp 100.000 satu hari itu aja belum tentu. Kalau sebelum covid Rp 1 juta itu paling sepi. Bisa sampai Rp 5 juta sehari,” kata Haris.

“Sekarang ga bisa dibedain. Dulu weekend itu bisa diharapkan lah. Sekarang weekend sama hari-hari biasa sama aja. Makanya banyak yang gulung tikar,” sambungnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *