Pelestarian Mendong dan Penanggulangan Kasus Stunting Jadi Fokus Kemitraan Sekolah Farmasi ITB dan Desa Tanjungsari Kabupaten Tasikmalaya

RADARTASIK.ID – Sejak tahun 2021, Sekolah Farmasi ITB (Institut Teknologi Bandung) telah menjalin kemitraan dengan Desa Tanjungsari Kecamatan Gunungtanjung Kabupaten Tasikmalaya dalam rangka peningkatan taraf kesehatan dan ekonomi masyarakat setempat.

Stimulasi pengembangan UKM dan BUMDES juga menjadi fokus utama kegiatan kemitraan ini. Kegiatan melibatkan ibu rumah tangga pengrajin kerajinan mendong serta kader desa.

Kerajinan mendong menjadi satu fokus karena semakin sedikitnya ibu rumah tangga yang menggeluti kerajinan tersebut yang dapat berujung pada punahnya tradisi kerajinan tersebut di masa yang akan datang.

Baca juga: Badan Riset Kota Tasikmalaya Akan Dibentuk di Bawah Bappelitbangda

Hal itu memang tidak terlepas dari nilai ekonomis kerajinan mendong yang dihasilkan. Hingga saat ini masyarakat Kampung Cikuya Desa Tanjungsari umumnya menghasilkan produk setengah jadi berupa kepangan mendong dan tikar, belum ada upaya untuk memvariasikan produk.

Jalinan kepang hasil anyaman dan tikar tenunan mendong dikumpulkan/dijual kepada pengepul dengan harga 10.000 per 100 meter kepang dan Rp 50 ribu per lembar tikar mendong dengan ukuran 85 x 250 cm.

Untuk menghasilkan kepangan dan tikar dengan ukuran tersebut diperlukan waktu seharian.

Bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Sekolah Farmasi ITB mengadakan workshop peningkatan keterampilan kerajinan mendong di Kampung Cikuya Desa Tanjungsari.

Baca juga: Karla Bionics, Startup Binaan ITB Terapkan Mega Arm ke Siswa SMK Bekasi pada CYBATHLON Challenges 2023

Workshop dihadiri oleh ibu-ibu kader pengrajin anyaman dan tenunan mendong. Dari workshop ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan pengrajin untuk mampu memproduksi produk akhir tenunan dan anyaman mendong yang lebih bervariasi dengan menggunakan pewarna alami.

”Konsumen terutama terutama wisatawan mancanegara akan lebih menyukai warna natural dari pewarna alami dibandingkan dengan pewarna sintetik. Selain itu juga isu berkaitan dengan lingkungan dari pewarna sintetik,” ujar Dr Dian Widyawati, dosen seni kriya FSRD ITB.

Selama ini para pengrajin anyaman mendong di Cikuya hanya memproduksi produk setengah jadi berupa jalinan kepang, sedikit berbeda dengan pengrajin tenun yang sudah mampu untuk memproduksi produk akhir tetapi terbatas pada tikar dengan pola dan pewarnaan yang masih terbatas menggunakan pewarna sintetik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *