SINGAPARNA, RADSIK – Persoalan denda yang diberikan salah satu pondok pesantren di Kabupaten Bandung terhadap santri asal Rajapolah berinisial I (12) akhirnya berujung islah. Setelah pihak pesantren dan Kemenag Kabupaten Bandung bertemu dengan keluarga santri di Kantor KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Senin (14/11/2022).

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan, semula muncul denda bagi santri sebesar Rp 37 juta, namun setelah dikonfirmasi pengakuan pihak pesantren bahwa sejatinya ini hanya sebagai strategi benteng edukasi saja, karena ini gratis. “Untuk sama-sama menjaga rasa tanggung jawab, supaya anak tidak keluar dari pesantren maka dibuatlah kebijakan seperti itu,” ujarnya kepada Radar, Rabu (16/11/2022).

Kata Ato, itu tidak bermaksud mengomersilkan melainkan hanya untuk edukasi. Kemudian dari pihak ponpes menyampaikan, kalau anaknya sudah tidak betah semua komitmen untuk melanjutkan melangsungkan pendidikan anak di manapun.

Baca selengkapnya, khusus pelanggan Epaper silakan klik, Login

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

  

 

%d blogger menyukai ini: