RADAR TASIK – Jumlah penduduk di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran dan Garut didominasi oleh laki-laki.

Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tahun 2021, jumlah penduduk Kota Tasikmalaya tercatat ada 731.606 orang. Jumlah tersebut terbagi menjadi 371.511 laki-laki dan 360.095 perempuan.
Artinya, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 11.416 orang dibandingkan perempuan. Kondisi ini serupa dengan beberapa tahun sebelumnya, hanya saja berbeda selisih.

Tahun 2020 penduduk laki-laki lebih banyak 12.139 orang dibandingkan perempuan. Sementara tahun 2019 selisihnya di angka 11.650 orang dengan jumlah laki-laki lebih banyak.

Kepala Disdukcapil Kota Tasikmalaya H Imih Munir menuturkan jumlah perempuan memang lebih sedikit ketimbang laki-laki. Namun, secara persentase, perbedaan penduduk berdasarkan jenis kelamin tersebut tidak terlalu jauh. ”Perbedaannya di sekitar 1,56 persen,” ucapnya.

Di lihat dari aspek umur, laki-laki berusia 20-29 tahun ada 62.593 orang. Sementara perempuan dengan usia yang sama tercatat ada 60.012 orang.

Untuk status perkawinan pun perempuan lajang jumlahnya lebih sedikit dengan angka 145.539. Sementara jumlah laki-laki yang belum menikah ada 183.585 orang.

Lain halnya dengan janda (cerai hidup dan mati) yang angkanya lebih banyak di angka 39.517 orang. Sementara laki-laki duda (cerai hidup dan mati) 12.437 orang.

Disinggung soal pengaruh dari kondisi kependudukan tersebut, Imih enggan berkomentar. Pasalnya dalam hal ini pihaknya lebih fokus pada upaya pembaruan data masyarakat. ”Kita berupaya untuk menyiapkan data yang berkualitas,” katanya.

Menurut versi Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan proyeksi interim hasil sensus penduduk tahun 2020, jumlah penduduk Kota Tasikmalaya tahun 2021 sebanyak 723.921 jiwa dengan laju pertumbuhan 0,81 persen dibanding penduduk tahun 2020.

Kecamatan Cihideung merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk terbesar yaitu 13.345 jiwa/km2 dan Kecamatan Tamansari merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk terkecil yaitu 2.115 jiwa/km2. Sedangkan kepadatan penduduk Kota Tasikmalaya adalah 3.930 jiwa/km2.

Jumlah angkatan kerja Kota Tasikmalaya tahun 2021 sebanyak 343.585 orang dengan tingkat pengangguran sebesar 7,66 persen. Sementara itu jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya sebanyak 4.796 orang dengan jumlah yang ditempatkan sebanyak 1.197 orang.

Sementara itu, penduduk Kabupaten Tasikmalaya berdasarkan hasil proyeksi sensus penduduk BPS 2020, sebanyak 1.883.733 jiwa yang terdiri atas 955.175 laki-laki dan 928.558 perempuan.

Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2020, penduduk Kabupaten Tasikmalaya mengalami pertumbuhan sebesar 0,29 persen dengan rasio jenis kelamin 98,04 persen.

Sedangkan menurut data Registrasi Penduduk yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tasikmalaya, jumlah penduduk Tahun 2021 sebesar 1.796.496 yang terdiri dari 913.795 laki-laki dan 882.701 perempuan.

Kepadatan penduduk di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2020 mencapai 689 jiwa/km2 dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Singaparna sebesar 2 907 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Pancatengah sebesar 245 jiwa/Km2.

Di Kabupaten Ciamis, menurut data BPS, pada 2021, jumlah penduduknya sebanyak 1.237,73 ribu jiwa. Terdiri dari 619,66 ribu laki-laki dan 618,07 ribu perempuan. Dengan demikian, angka rasio jenis kelamin di Kabupaten Ciamis sebesar 100,26 yang artinya terdapat 100-101 penduduk laki-laki di setiap 100 penduduk perempuan.

Jika dilihat berdasarkan kecamatan, Cikoneng memiliki rasio jenis kelamin tertinggi, yaitu 104,05. Sedangkan yang terendah Kecamatan Tambaksari yaitu 95,45.

Sebagian besar kecamatan memiliki angka rasio jenis kelamin lebih lebih dari 100, yang artinya jumlah penduduk laki-laki masih mendominasi, kecuali di sebelas kecamatan yakni Kecamatan Tambaksari, Pamarican, Cimaragas, Ciejungjing, Cisaga, Rancah, Sukadana, Ciamis, Jatinagara, Panawangan dan Lumbung.

Jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Ciamis yang dihuni sebanyak 99,13 ribu jiwa (8,01 persen). Sementara itu, kecamatan dengan populasi terkecil adalah Kecamatan Cimaragas yang memiliki 16,13 ribu penduduk.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Hanya 8 kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk lebih dari 1.000 jiwa/km2.

Kemudian, di Kota Banjar, Disdukcapil mencatat Data Kependudukan Bersih (DKB) 2021, jumlah penduduk di kota empat kecamatan berjumlah 205.732 jiwa. Dari jumlah total tersebut, populasi laki-laki lebih banyak sekitar seribu jiwa lebih dibanding perempuan.

“Jumlah laki-laki sebanyak 103.374 jiwa, kemudian jumlah perempuan sebanyak 102.358 jiwa. Sementara jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 71.862 KK,” kata Kepala Disdukcapil Kota Banjar Heri Sapari.

Sementara itu, sejak 2019 sebanyak 3.000 lebih pria di Kota Banjar dipastikan tidak bisa memiliki keturunan lagi. Hal itu terjadi setelah mereka menjalani operasi vasektomi atau metode operasi pria (MOP) untuk mendukung program pengendalian anak (keluarga berencana).

Meski demikian, pria yang sudah divasektomi tetap bisa menjalankan aktivitas seksnya. Keberhasilan program Kampung KB Kota Banjar sudah dipelopori tahun 2010.

Versi BPS, berdasarkan data ke­pendudukan hasil Proyeksi penduduk interim 2020-2023 (Pertengahan tahun/Juni), jumlah penduduk Kota Banjar mencapai 203,42 ribu jiwa pada tahun 2021. Laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,62 persen dari tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Langensari, mencapai 2,08 persen. Sementara pertumbuhan penduduk terkecil, 1,25 persen, berada di Kecamatan Banjar.

Domisili penduduk tersebar di semua kecamatan. Kecamatan Pataruman memiliki jumlah penduduk terbanyak yang mencapai 61,97 ribu. Namun dilihat dari kepadatan penduduk, wilayah terpadat berada di Kecamatan Banjar. Kepadatan mencapai 2.251 jiwa per km2. Hal ini wajar karena Kecamatan Banjar merupakan pusat perekonomian di Kota Banjar.

Rasio jenis kelamin di Kota Banjar cukup berimbang yaitu 100,7. Artinya di setiap 1.000 perempuan akan terdapat 1.007 laki-laki. Namun jika melihat kondisi piramida penduduk, mulai usia 45 tahun, jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena adanya urbanisasi pada kelompok umur produktif.

Di Kabupaten Pangandaran, BPS merilis, pada 2021, jumlah penduduknya sebanyak 427,61 ribu jiwa. Terdiri dari 214,12 ribu laki-laki dan 213,50 ribu perempuan. Dengan demikian, angka rasio jenis kelamin di Kabupaten Pangandaran sebesar 100,29 yang artinya terdapat 100-101 penduduk laki-laki di setiap 100 penduduk perempuan.

Jika dilihat berdasarkan kecamatan, Langkaplancar memiliki rasio jenis kelamin tertinggi, yaitu 102,42, sedangkan yang terendah Kecamatan Cijulang yaitu 96,78. Sebagian besar kecamatan memiliki angka rasio jenis kelamin lebih lebih dari 100, yang artinya jumlah penduduk laki-laki masih mendominasi, kecuali di tiga kecamatan yakni Kecamatan Parigi, Cijulang, dan Sidamulih.

Jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Padaherang yang dihuni sebanyak 68,80 ribu jiwa (16,09 persen). Sementara itu, kecamatan dengan populasi terkecil adalah Kecamatan Cigugur yang memiliki 22,98 ribu penduduk.
Sementara itu, berdasarkan data Disdukcapil, jumlah penduduk Kabupaten Pangandaran hingga semester II tahun 2021 mencapai 432,6 ribu jiwa.

Dari jumlah tersebut, penduduk berkelamin laki-laki lebih mendominasi dari perempuan. Untuk laki-laki mencapai 216,7 ribu jiwa. Sementara perempuan mencapai 215,8 ribu jiwa.

Sekretaris Disdukcapil Kabupaten Pangandaran Uki mengatakan untuk jumlah kepala keluarga di daerahnya mencapai 157,6 ribu jiwa. ”Terbanyak ada di Padaherang dengan jumlah 25 ribu kepala keluarga,” tuturnya.

Untuk jumlah penduduk, otomatis Kecamatan Padaherang menjadi yang terpadat. ”Mencapai 69 ribu jiwa,” ujarnya.
Jumlah laki-laki di Kecamatan Padaherang mencapai 35 ribu jiwa, sementara perempuan mencapai 34 ribu jiwa. Sementara Kecamatan Cigugur menjadi daerah yang kepadatan penduduknya paling rendah. “Yakni sebanyak 23 ribu jiwa,” ucapnya.

Sementara itu, jumlah penduduk Kabupaten Garut pada 2021 berdasarkan rilis BPS Jawa Barat mencapai 2.604,79 ribu jiwa.

Adapun rasio jenis kelamin Kabupaten Garut yakni 105,0. Dengan jumlah laki-laki mencapai 1.334.360 jiwa dan perempuan 1.270.427. Jadi total penduduknya 2.604.787 jiwa.

Aktivis perempuan Ipa Zumrotul Palihah mengatakan belum bisa menilai pengaruh positif dan negatifnya dari dominasi populasi laki-laki atas perempuan. Namun, sekarang ini poin pentingnya ada di stigma dan mindset perempuan. ”Karena lebih banyak atau sedikit, kita belum tahu dampak spesifiknya,” ucapnya.

Pasalnya saat ini stigma untuk perempuan masih lebih banyak pandangan negatifnya. Hal itu seiring dengan pola pikir di pribadi perempuannya juga. ”Kalau perempuan ngumpul pasti dipandang ngegosip, tapi kalau laki-laki paling dibilang nongkrong atau ngopi,” ujarnya.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional ini, dia berharap ke depannya perempuan bisa lebih baik. Supaya ruang kontribusi untuk pembangunan bagi kalangan perempuan bisa lebih besar.

Kendati demikian bukan berarti mengabaikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Karena harus bisa dibedakan antara kodrat dan pilihan. ”Kalau hamil, melahirkan, menstruasi kan itu kodrat, kalau berkontribusi untuk masyarakat itu pilihan,” tuturnya. (rga/cep/isr/den/red)

By Midi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: