Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Tekan Diabetes Melitus dengan Terapkan Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh

Poltekkes Kemenkes
Tim Pengabdian Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yakni Dr Ns Siti Badriah SKep MKep Sp Kep Kom, Yanyan Bahtiar SKp MKep foto bersama kader posyandu Kelurahan Kersanagara di Aula Kelurahan Kersanagara Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Sabtu (5/8/2023). (Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Aula Kelurahan Kersanagara Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya, Sabtu (5/8/2023). Kegiatan pengabdian dengan model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam penerapan manejemen diabetes melitus pada lansia melalui pendekatan budaya Sunda yakni Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh.

Tim Pengabdian Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yakni Dr Ns Siti Badriah SKep MKep Sp Kep Kom dan Yanyan Bahtiar SKp MKep. Lalu pengabdian tersebut melibatkan 3 mahasiswa semester 7 dari program Sarjana Terapan Keperawatan.

Ketua Tim Pengabdian Dosen Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Dr Ns Siti Badriah SKep MKep Sp Kep Kom mengatakan, laporan Riskesdas Jabar tahun 2018 prevalansi diabetes melitus dari hasil diagnosis dokter pada penduduk seluruh usia di Provinsi Jawa Barat yaitu 1,28 persen dan di Kota Tasikmalaya prevalansi diabetes melitus adalah sebesar 1,37 persen. Lalu, dari hasil riset dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya di Kota Tasikmalaya sudah terbukti pendekatan budaya Sunda yakni Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh bisa mengendalikan kadar gula darah lansia.

Baca Juga:Siswa SDN 1 Parakannyasag Dilatih Mahir Komputer Agar Siap Hadapi ANBKUpaya Penyegaran dan Peningkatan Kinerja, Bupati Tasikmalaya Lantik Pejabat Administrator dan Pejabat Pengawas

“Hasil itu, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melanjutkannya dengan pengabdiannya melakukan model pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam penerapan manejemen diabetes melitus pada lansia. Tentunya melalui pendekatan budaya Sunda yakni Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh,” katanya.

Mengingat, sambung dia, lansia merupakan kelompok rawan dari gangguan kesehatan. Itu kerena seiring dengan bertambahnya usia, lansia mengalami penurunan berbagai fungsi organ tubuh salah satunya adalah organ pankreas, sehingga berisiko bahaya terkena diabetes melitus.

“Penyakit diabetes melitus timbul karena perilaku hidup yang tidak sehat. Khususnya bagi lansia yang paling rentan terkena diabetes melitus, sehingga perlu perhatian di lingkungan terdekatnya yakni keluarga,” ujarnya.

Oleh karenanya, dalam pengabdian Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya saat ini memberikan bekal pelatihan kepada kader kesehatan di Kelurahan Kersanagara dalam merawat lansia diabetes melitus. Sehingga kita memberikan materi dilengkapi buku panduan dan praktek dalamĀ  pendekatan kepada lansia untuk keluarga, seperti cara mengatur pola makan, olahraga, cara komunikasi, dan lainnya.

0 Komentar