Perusahaan Kripto Menguatkan Pengaruhnya di Inggris, Hadapi Tekanan Politik, OJK Ngotot Tak Beri Izin

RADARTASIK.ID – Otoritas Jasa Keuangan (Financial Conduct Authority/FCA) Inggris menghadapi tekanan politik untuk mengizinkan sejumlah perusahaan kripto masuk ke pasar Inggris.

Hal tersebut dibeberkan Mantan Kepala OJK Inggris Charles Randell yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala OJK Inggris pada musim semi.

Charles Randell mengungkapkan bahwa ini merupakan contoh dari pengaruh yang telah dicoba oleh politisi terpilih untuk diberikan kepada regulator independen.

Baca juga: Neuralink, Startup Milik Elon Musk Boleh Rekrut Manusia dalam Uji Implan Otak, Orang-Orang Ini yang Bisa Direkrut

”Dalam konteks kripto, dalam pengalaman saya sebagai Kepala FCA, ada banyak tekanan politik untuk menyambut perusahaan-perusahaan, beberapa di antaranya sekarang sedang diselidiki oleh Departemen Kehakiman AS,” ujar Charles Randell dikutip The Guardian, Selasa 19 September 2023 waktu setempat.

”Dan semua bukti yang kami miliki di FCA menunjukkan bahwa itu bukan ide yang baik,” kata Charles Randell dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Prudential Regulation Authority Bank of England pada hari Selasa.

Tak Izinkan Perusahaan Kripto

Meskipun Charles Randell tidak menyebutkan nama perusahaan kripto yang dimaksud, FCA menolak untuk mengizinkan bursa kripto termasuk FTX dan Binance beroperasi di Inggris.

Baca juga: Investor Saham di Kota Tasikmalaya Melejit Hingga Seribu Persen, Didominasi Kalangan Milenial 

”Kami mendapatkan banyak kritik dari orang-orang yang mengatakan bahwa kami membiarkan aktivitas inovatif ini pindah ke yurisdiksi lain, dan bahwa yurisdiksi lain sedang mencuri perhatian,” ungkap Nikhil Rathi, CEO FCA, kepada sebuah komite di House of Lords pada bulan November tahun lalu.

Hal ini terjadi setelah FCA menggulirkan alarm terkait pengawasan terhadap perusahaan kripto Binance. ”Dan memberlakukan pembatasan sehingga Binance tidak dapat melakukan kegiatan yang diatur di Inggris tanpa persetujuan tertulis,” ujar Nikhil Rathi.

Dalam pidato pada hari Selasa, Charles Randell mengatakan bahwa episode ini merupakan sinyal tantangan ”pengaturan” yang lebih luas bagi para regulator.

Baca juga: Ini Dia Daftar Emiten Saham Paling Cuan 2022, BRI Raih Laba Bersih Rp 51,17 T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *