INDIHIANG, RADSIK – Bawaslu Kota Tasikmalaya menilai partisipasi kaum hawa di daerah masih minim dalam keikutsertaan perhelatan demokrasi. Mereka berinisiasi menggandeng sejumlah pihak, supaya tingkat partisipasi meningkat dan berefek kualitas hasil pemilihan umum semakin baik, salah satunya Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Bagi Perempuan.

Salah satu pembicara, Founder FC Life Couch Indonesia Fiona Callaghan yang merupakan Komisaris Utama PT Soekapoera Khatulistiwa Nusantara (Sokhatara). Dia mengakui banyaknya pekerjaan rumah soal partisipasi perempuan di urusan politik. Tasikmalaya, kata dia, masih minim akan keikutsertaan kaum hawa dalam peran serta mengawasi proses demokrasi.

“Mesti ada peranan aktif, Bawaslu mulai sejarah baru mengajak kolaborasi sejumlah pihak termasuk kami, semoga menginspirasi peserta perempuan partisipatif ke depan. Diharapkan setelah ini ada kontinuitas mendorong hal tersebut,” ujarnya disela kegiatan sosialisasi di Hotel Fave, Selasa (6/9/2022).

Menurutnya, pihak lain pun diharapkan melakukan langkah serupa. Supaya sama-sama memotivasi hawa aktif, andil dalam pengawasan Pemilu, sehingga kualitas pimpinan dari proses demokrasi yang lahir sesuai harapan. “Faktor penyebab partisipasi minim? Banyak mindset dibentuk dan pembentukan framing ancaman perempuan, harus di rumah, tabu urusan berbau politik, dan lain-lain. Itu salah satu penyebabnya kenapa partisipasi perempuan minim. Kesetaraan gender harus digaungkan dalam beragam hal, termasuk di Tasik perempuan mesti berani bersuara urusan demokrasi,” harapnya.

Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif Bagi Perempuan dengan tema ‘Peranan Perempuan dalam Demokrasi: Mengawal dan Menjaga Kualitas Pemilu 2022’ tersebut menghadirkan lebih dari seratus perempuan dari berbagai komunitas dan lintas organisasi. Sekaligus penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Bawaslu Kota Tasikmalaya dengan PT Sokhatara.

Ketua Bawaslu Kota Tasikmalaya Ijang Jamaludin menuturkan, pada tahap verifikasi parpol, masih banyak ditemukan nama warga dicatut dalam Sipol. “Yuk publik ketika namanya dicatut, cek di NIK. Artinya ada partisipasi pengawasan pada proses, jangan melek politik hanya saat datang ke TPS saja,” ujarnya.

Maka, pihaknya menghadirkan sejumlah pembicara dalam memotivasi kalangan perempuan, bekerjasama supaya peran perempuan bisa dimunculkan. “Kami hadirkan pemateri, MoU penguatan pengawasan bagaimana membuka wawasan di ekosistem politik dan demokrasi ini,” tekad Ijang. (igi)

%d blogger menyukai ini: