Perempuan Harus Punya Skill Agar Bisa Bersaing Mendapat Pekerjaan

perempuan
Satpol PP menggiring duaanak jalanan yang kedapatan melakukan aktivitas di pusat kota. (dok. radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Aktivis perempuan dan anak di Tasikmalaya menilai perempuan punya potensi untuk mandiri dan maju di dunia kerja.

Baik sebagai wirausaha maupun sebagai pekerja. Fenomena seorang ibu yang rela menjadi badut diartikan sebagai dampak dari pola pikir praktis dan akibat minimnya kompetensi yang dimiliki.

direktur Taman Jingga, Ipa Zumrotul Falihah, menilai pendidikan yang rendah dan lingkungan yang tidak suportif menjadi dua faktor pengaruh utama pembentuk pola pikir seseorang memilih berpikir praktis dalam mencari uang.

Baca Juga:Hamida Dorong Dede Muksit Aly Maju di Pilkada 2024 Kabupaten TasikmalayaKader Ideologis PDIP Diminta Berani Maju pada Pilkada 2024

“Ini balik lagi ke tingkat pendidikan. Cirlce dimana perempuan itu bisa terpengaruhi oleh faktor lingkungan,” kata Ipa kepada Radar, Rabu, 3 April 2024.

Ia menjelaskan bahwa, tingkat pendidikan yang rendah serta lingkungan yang tidak mendukung akan memengaruhi perempuan, memilih pekerjaan secara instan. Contohnya adalah menjadi badut di jalanan.

“Badut perempuan itu beralasan tidak ada pekerjaan lain karena dia menjadi tulang punggung keluarga,” ucapnya.

“Sebagai sesama perempuan merasakan apa yang dirasakan bagi perempuan yang jadi tulang punggung keluarga. Akan tetapi ini mungkin persoalannya masalah cara berpikir instan. Banyak sekali perempuan di luar sana yang berpikir tidak ingin ribet menurut versi-nya,” lanjut Ipa.

Selain itu, kompetensi yang dimiliki perempuan juga jadi nilai untuk mendapatkan karier yang bernilai. Tanpa skill itu, menurut Ipa, antar perempuan bahkan dengan laki-laki sekalipun, mereka tidak akan punya daya saing.

“Balik lagi ke kemampuan skill yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Ketika tidak ada skill di bidang tertentu, maka perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga ada yang mengambil langkah instan dapat uang. Contohnya menjadi badut atau pengemis bahkan sambil membawa anak-anaknya,” paparnya.

Ipa menduga badut perempuan atau pengemis perempuan, yang membawa anak-anak untuk memicu rasa kasihan dari khalayak. Menurutnya itu tidak pantas dilakukan.

Baca Juga:Siapkan Operasi Ketupat Lodaya, Polres Banjar Siagakan 150 PersonelRatusan Bahan Pokok Ludes Diborong Warga Kota Banjar Tidak Kurang dari 1 Jam

Di Kota Tasikmalaya menurutnya, lowongan pekerjaan tidak begitu sulit ditemukan. Apalagi sebagai kota pusat industri Priangan Timur, banyak kesempatan yang bisa diraih perempuan.

“Di Tasikmalaya kan banyak home industri seperti bordir, kerajinan tangan dan lainnya. Balik lagi ke mindset perempuan itu ketika tidak punya skill,” ujarnya.

0 Komentar