Menara Masjid Agung Baiturrahman Kabupaten Tasikmalaya

RADAR TASIK – Organisasi mahasiswa di Kabupaten Tasikmalaya mendesak pemerintah daerah mengevaluasi pembangunan Masjid Agung Baiturrahman setelah menara di sebelah timur ambruk.

Mereka juga menuntut Inspektorat beserta Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup (PUPR-LH) Kabupaten Tasikmalaya menginvestigasi dan mengevaluasi pekerjaan pemborong atau pihak ketiga.

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tasikmalaya Andi Perdiana mengatakan peristiwa runtuhnya bangunan Menara Masjid Agung Baiturrahman tersebut harus dievaluasi.

”Kemungkinan sisi lain entah dalam kesalahan konstruksi atau kesalahan lainnya. Sangat disayangkan bangunan yang baru berdiri sejak 2018 tak mampu bertahan cukup lama,” ujar Andi kepada Radar, Kamis (3/3/2022).

Andi menyarankan instansi terkait mengecek lagi beberapa bangunan atau menara lainnya karena dikhawatirkan menimbulkan ancaman bagi warga yang berada di lingkungan masjid.

”Jangan sampai membahayakan keselamatan jemaah, masyarakat dan pedagang lainnya yang setiap hari melaksanakan aktivitas beribadah dan berdagang di sekitaran masjid,” tuturnya.

Ketua Koalisi Mahasiswa dan Rakyat Tasikmalaya (KMRT) Arief Rahman Hakim mengungkapkan ambruknya Menara Masjid Agung mengagetkan masyarakat dan sangat disayangkan.

”Dengan anggaran yang fantastis Rp 30 miliar, kemudian belum genap lima tahun sudah ambruk tanpa ada angin atau hujan. Kami sangat sayangkan kejadian ini harus dievaluasi oleh pemerintah daerah,” katanya.

Pemerintah daerah, kata dia, harus mengevaluasi pemborong atau pihak ketiga dan pengusaha pemenang tender proyek pembangunan masjid itu. ”Jika ada sesuatu hal dari awal ada masalah maka harus dievaluasi hasil pekerjaannya. KMRT juga sering mengkritisi soal pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya, termasuk Masjid Baiturrahman ini, yang menghabiskan anggaran Rp 30 miliar, dan untuk menara sekitar Rp 14 miliar,” tuturnya.

Arief meminta pemerintah lebih selektif lagi memilih pemborong dalam mengerjakan proyek pembangunan. Pemenang tender proyek masjid agung juga harus diberi peringatan.

”Karena ini juga masih tanggung jawab pengusaha dan pemerintah harus tegas kepada pihak ketiga. Kalau kita minta ada investigasi oleh Inspektorat supaya pemerintah betul-betul serius,” ujarnya.

Menurut Arief, melihat peristiwa itu, kualitas bangunan lain di masjid agung juga harus dicek ulang. Pasalnya, menara sebelah timur ambruk ketika cuaca sedang tenang.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tasikmalaya Zamzam Multazam menambahkan pihaknya juga mendorong adanya evaluasi oleh pemerintah daerah atas ambruknya menara masjid agung.

”Kita sepakat ada evaluasi dan tindak lanjut dari pemerintah daerah melalui dinas terkait. Supaya jelas apa yang menjadi penyebab bisa ambruknya menara Masjid Agung Baiturrahman yang menelan anggaran yang cukup besar,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, menara timur Masjid Agung Baiturrahman Kabupaten Tasikmalaya setinggi 50 meter tiba-tiba ambruk menimpa lapak pedagang kaki lima pada Senin (28/2/2022) sekitar pukul 15.15 WIB.

Menara itu ambruk diduga karena kualitasnya buruk. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa di Jalan Bypass Bojongkoneng Desa Sukaasih Kecamatan Singaparna itu. Hanya, reruntuhan menara merusak lapak dan gerobak PKL.

Ketua DKM Masjid Agung Baiturrahman KH Hasan Basri mengatakan robohnya menara masjid terjadi saat memasuki waktu Asar. Di lingkungan masjid tidak sedang hujan dan tak ada angin kencang.

”Kejadian terkesan tiba-tiba runtuh, kerugian belum bisa ditaksir. Kerusakan menara kondisi rusak berat. Demikian laporan disampaikan Sekretariat Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya,” tuturnya.

Menurut KH Hasan, menara yang roboh itu berada di sebelah timur atau sebelah selatan dari taman masjid. ”Tidak ada korban jiwa dalam robohnya menara masjid. Ada saung dan roda milik pedagang tertimpa sisa reruntuhan yang kondisi rusak,” ujarnya. (dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: