Pandangan Psikolog Soal Tersangka Pembunuhan di Pagerageung Tasikmalaya

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Proses pembunuhan yang dilakukan oleh HP yang kini sudah berstatus tersangka, kepada sang kekasih berinisial WW gara-gara kehamilan terbilang sangat keji. Dari kaca mata psikologis, hal itu dinilai efek dari kepanikan dengan pemikiran yang pendek.

Psikolog Tasikmalaya Rikha Surtika Dewi SPsi MPsi sependepat bahwa apa yang dilakukan HP sangat kejam. Di mana dia memukul kekasihnya dengan tangan kosong, menggunakan balok kayu dan dan diakhiri tusukan pisau sehingga meninggal sangat sadis. “Memang sangat sadis apa yang dilakukan pelaku,” ungkapnya kepada Radartasik.id, Kamis (7/12/2023).

Melihat dari rangkaian kronologi pembunuhan tersebut, dia melihat bahwa pelaku mengalami kepanikan. Namun bukan sebatas karena kondisi kehamilan korban saja, dia juga terbebani dengan hal lain, misalkan citra diri dan keluarga. “Jadinya semakin tinggi tekanan yang dialami,” ucapnya.

Baca juga : Sudah 1 Tahun Lebih, Pasar Cibeureum Kota Tasikmalaya Tetap Sepi

Dari beberapa kasus hamil di luar nikah, rata-rata pelaku berpikir bagaimana cara menggugurkan kandungan. Jika tidak, pelaku yang merupakan pasangan mengambil konsekuensi menikah.

Dalam kasus HP dan WW, dia menilai ada cara berpikir yang pendek dari keduanya. Entah karena murni kepanikan, atau memang pelaku belum punya kemampuan mengatasi masalah termasuk soal kekasihnya yang hamil. “Bisa jadi dia memang bingung, enggak tahu kalau mau aborsi itu bagaimana,” ucapnya.

Pasalnya jika melihat beberapa pemberitaan, pelaku menyimpulkan sendiri kalau WW memang hamil. Secara logika, setidaknya pelaku dan korban mengujinya menggunakan test pack. “Karena kalau tidak salah kehamilan korban dipastikan setelah autopsi kan,” terangnya.

Baca juga : 27 Adegan, Pelaku Peragakan Proses Pembunuhan di Pagerageung Tasikmalaya dalam Rekonstruksi

Apalagi pelaku sampai menyiapkan lebih dari satu alat untuk menganiaya korban, yakni balok kayu dan pisau. Sedangkan pisau yang digunakannya saja sudah bisa jadi senjata pembunuh. “Sepertinya itu karena memang pelaku tidak bisa berpikir jernih, jadi yang dipikirannya hanyalah segala hal harus disiapkan agar korban meninggal,” katanya.

Sebagian warga mengasumsikan bahwa pelaku merupakan psikopat berdarah dingin. Pasalnya setelah pembunuhan dia terlihat biasa saja, bahkan sebelum ditangkap dia sempat berbincang dengan santai dengan orang tua korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *