RADAR TASIK – Menara timur Masjid Agung Baiturrah­man Kabupaten Tasikmalaya setinggi 50 meter tiba-tiba ambruk menimpa lapak pedagang kaki lima pada Senin (28/2/2022) sekitar pukul 15.15 WIB.

Menara yang dibangun tahun 2019 itu ambruk diduga karena kualitasnya buruk. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa di Jalan Bypass Bojongkoneng Desa Sukaasih Kecamatan Singaparna itu. Hanya, reruntuhan menara merusak lapak dan gerobak PKL.

Ketua DKM Masjid Agung Baiturrahman KH Hasan Basri mengatakan robohnya menara masjid terjadi saat memasuki waktu Asar. Di lingkungan masjid tidak sedang hujan dan tak ada angin kencang.

”Kejadian terkesan tiba-tiba runtuh, kerugian belum bisa ditaksir. Kerusakan menara kondisi rusak berat. Demikian laporan disampaikan Sekretariat Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya,” tuturnya.

Menurut KH Hasan, menara yang ro­boh itu berada di sebelah timur atau sebelah selatan dari taman mas­jid. ”Tidak ada korban jiwa dalam ro­boh­nya menara masjid. Ada saung dan roda milik pedagang tertimpa sisa reruntuhan yang kondisi rusak,” ujarnya.

Ketua Forum Komunikasi (FK) Ta­runa Siaga Bencana (Tagana) Kabu­paten Tasikmalaya Jembar Adi Setya membenarkan bahwa insiden itu tida menimbulkan korban jiwa. “Namun ada jongko tempat pedagang di sekitar lokasi kejadian yang tertimpa sisa material menara yang roboh,” katanya.

Kepala Seksi Ketertiban Umum (Tibum) dan Kerja Sama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tasikmalaya Mohamad Nizan Mulyana menambahkan tinggi menara yang roboh diperkirakan tingginya 50 meter.
”Kurang lebih 50 meter, dugaan awal oleh terhempas angin. Kami bersama anggota Satpol PP demi membantu evakuasi tempat pedagang yang tertimpa dan rusak akibat reruntuhan tersebut,” tuturnya.
APH Harus Turun Tangan

Menyikapi ambruknya menara Masjid Agung Baiturrohman, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Tasikmalaya meminta aparat penegak hukum (APH) dan dinas terkait mengecek bagian bangunan lainnya dikhawatirkan riskan ambruk.

”Ambruknya menara ini pada saat tidak ada bencana baik angin, hujan atau gempa bumi, justru cenderung cerah. Ini aneh sementara bangunan itu dibangun 2019 dengan anggaran sekitar Rp 14 miliar. Ini ada masalah apa bisa sampai ambruk, maka dari itu Ansor mendorong APH melakukan penyelidikan,” ujar Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim kepada Radar, tadi malam.

”Karena ini bukan anggaran kecil, apalagi baru tiga tahun bangunannya, kemudian tiga tahun ambruk pun tanpa ada bencana, ini tiba-tiba ambruk saja. Kami menduga ada proses yang tidak beres dalam pembangunannya,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Asep, Ansor meminta APH turun melakukan penyelidikan terkait pembangunan. Pasalnya, pada pembangun 2019 pun waktu itu banyak informasi-informasi polemik, terlebih soal anggaran yang cukup fantastis.
Menurut Asep, ambruknya menara masjid ini harus benar-benar disikapi serius oleh APH dan pemerintah daerah.

Pasalnya, ini merupakan bangunan masjid yang sering digunakan masyarakat beribadah. Dikhawatirkan bagian-bagian lainnya juga rawan ambruk, artinya harus dipastikan dan ada yang menjamin kalau bangunan tersebut masih aman.

“Bersyukur pada saat ambruk tidak sampai menelan korban jiwa, walaupun ada tempat jualan yang terkena imbas dari reruntuhan menara tersebut,” tuturnya. (dik/yfi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: