SENIN pagi pekan lalu, Mas Radi, video call saya. Beberapa hari sebelumnya saya memang telepon dia via WA. Nada dering. Tapi tidak dijawab.

Saya chat. Menanyakan kondisi kesehatnya. Tidak juga ada balasan. Saya berniat jenguk ke rumahnya. Mengatur waktu. Eh, pagi itu Mas Radi video call.

Begitu lihat di layar HP, Mas Radi duduk di kursi. Di sampingnya Mbak Indri, tapi tidak terlihat di kamera. Mas Radi sampaikan kondisi dirinya. Nafas sesak. Ya, memang terlihat sesak saat bicara. Agak tersenggal-senggal. Nafasnya pendek.

Saya sarankan istirahat. “Nanti saya kirim ahli bekam. Kang Mus. Dia langganan saya juga,” ujar saya saat itu.

Mas Radi bertanya. “Lagi sesak begini tidak apa-apa dibekam?”. Saya jawab. “Insyaallah aman. Saya juga kalau dibekam lagi kondisi gak enak. Jadi membaik,” ujar saya meyakinkan dia.

Saya pun kontak Kang Mus. Juga bertanya ke Kang Mus soal pertanyaan Mas Radi. Jawabannya, aman. Bisa dibekam. Jadilah saya minta Kang Mus bekam Mas Radi.

Malam harinya setelah dibekam, saya WA. Sekitar pukul 20.00 WIB. Menanyakan perkembangan kondisinya. Tidak dibalas. Baru pagi hari, pukul 07.06 WIB, ada chat balasan. :Lumayan. Pa ali. Tapi semalam masih agak engap sih nafasnya,” jawaban itu chat asli. Huruf dan komposisi kalimatnya begitu. Saya tidak ubah.

Ada pengakuan lumayan, saya lega. Yakin akan membaik. Seperti halnya saya kalau tidak enak badan dan sesak nafas.

**

Radi Nurcahya bin Makad. Itu nama lengkap Mas Radi. Kami menyapanya Mas Radi. Dia anak Cirebon. Palimanan.

Saya masih teringat awal Mas Radi datang ke Tasik. Menyusul tim Radar Cirebon boyongannya Pak Nana Hanafi yang saat itu selaku general manajer yang merintis Radar Tasikmalaya. Ada Ruslan Cakra, Abdul Haris, Cak Rudi, Midi Tawang, Imam Suryaningrat, Mas Bambang, Pak Rais, Charles Bale, Devi Fitriani, Tiko Heryanto, Agustiana, Lilis Lismayati, Sona Sonjaya, Hasan, Erwin, Wandi, Aam, Acep Aryana, Wati dan Eka.

Saya sendiri bergabung lebih belakang dari tim ini. Datang jauh dari Bengkulu ke Cirebon menemui Pak Yanto S Utomo selaku direkturnya. Dari Cirebon saya disuruh bergabung ke tim yang sudah duluan berada di Tasik.

Awal bergabung dalam tim, Mas Radi kami bawa ke Pangandaran. Meliput sebuah event sepeda. Kami naik mobil minibus. Carry 1.600 cc warna biru dongker. Kendaraan dinas pertama Radar Tasik. Ke Pangandaran sebenarnya hanya menemani yang meliput. Saya sebatas mengajak pengenalan wilayah ke Mas Radi. Lalu, sejak itu resmi Mas Radi jadi tim redaksi perintis Radar Tasik. Meninggalkan homebase Radar Cirebon.

Tak lama di redaksi, Mas Radi beralih ke perusahaan. Jadi manajer iklan. Itulah masa gemilangnya iklan koran cetak. Sampai Radar Tasik mampu membeli lahan dan membangun kantor sendiri: Graha Pena Radar Tasikmalaya di Jalan SL Tobing No 99.

Sukses gawangi iklan. Mas Radi saya minta rintis Radar Tasikmalaya Televisi. Dia siap. Sampai mengudara selama hampir delapan tahun. Setelah itu regenerasi ke tim muda.

Mas Radi saya ajak membangun divisi baru. Radar Training Centre. Atau RTC. Divisi yang mencoba merambah kerja sama dengan dunia pendidikan dalam pembentukan karakter. Ratusan guru PAUD, TK, sampai tingkat lebih atas, diberikan training tentang pendidikan karakter. Terutama membentuk generasi cerdas berakhlak mulia.

Di RTC tidak lama. Banyak faktor penyebabnya. Tapi saya merasakan sendiri, sejak ada RTC dan ikuti beragama kegiatannya, ada perubahan konsep hidup. Lebih memaknai harus bagaimana menjalani hidup serta bagaimana mengakhiri hidup.

Benar. Saya disadarkan tentang tujuan hidup di dunia. Mulai proses penciptaan, menjakani keseharian sampai persiapan tutup usia. Materi RTC menggali Al-Qur’an ayat ke ayat. Menjawab semua masalah hidup dari tafsir Qur’an.

Mulai penciptaan manusia, pernikahan, hubungan bisnis, berbagi rezeki, pertaubatan. Tujuannya membentuk manusia berkarakter takwa. Tertuang di QS Ali Imran ayat 133 sd 134. Ada indikator takwa yang bisa dilatih. Yakni Memberi saat lapang dan sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain memohon ampun jika berbuat dosa, dan upaya berbuat baik. Kami menyingkatnya dengan M4U (dibaca Em Four Yu. Dilafalkan emforyu).

Indikator ini bisa menjawab kegagapan tentang nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan ke generasi muda. Penerus negeri ini. Nilai yang sangat universal. Bentuk riil rahmatan lil alami.

Tapi RTC tidak lama. Beku. Tidak mudah memang. Mendobrak kebekuan yang akut realitas kehidupan. Tapi bagi saya, RTC itulah pendidikan terbaik untuk kami di Radar. Kang Jati, Mas Basuki, Kang Adi, Kang Dadi, Ustaz Asep Musthofa, mereka itulah mentor-mentor terbaik yang bersama Mas Radi kelola RTC.

“Biarlah virus kebaikan program RTC berkembang biak di luar sana. Setidaknya, kita sudah berbuat untuk perubahan masyarakat,” begitu kira-kira bahasa saya ke Mas Radi, menyikapi RTC. Mas Radi senyum, saya yakini tanda setuju.

Mas Radi luar biasa. Tugas berikutnya saya pikulkan. Mengembangkan produk halal. Ada Radar Halalmart. Saya katakan, kota ini mengklaim kota santri. Maka produknya yang kehalalannya jelas harus kita topang. Melalui kolaborasi dengan Halalmart ini.

Tidak mudah memang. Ide dan gagasan butuh keuletan dan konsistensi memperjuangkannya. Mas Radi sabar. Walau ajakannya seperti air menimpa daun talas. Atau seperti tepukan yang tak beradu. Bertepuk sebelah tangan. Mas Radi dibina Kang Wahyuddin dan Bu Elsa bahu membahu mengembangkan Radar Halalmart ini. Sampai menemui wali kota, sekda, KORPRI, serta stakeholder lainnya.

Saya semangati dia. Lagi-lagi tentang kita sudah berbuat. Ingin memberikan yang terbaik. Hasilnya saat ini terima saja. Berdamai dengan kenyataan. Nanti kita akan paham kenapa hasilnya begini. Yang penting tetap semangat.

**

Sampailah era digital. Media harus adaptasi. Lagi-lagi saya lirik Mas Radi sebagai pemimpin perusahaan. Satu tahun ini bersama Ruslan Cakra, Tiko Heryanto, Achmad Faisal, Tina Agustina, Andri, Sindy Solehah, Ujang Nandar, Rezza Rizaldy, membangun Radartasik.com. Mereka meneruskan rintisan Agustiana yang saya tugaskan kelola pengembangan usaha lain.

Tidak mudah beradaptasi. Tapi Mas Radi dan timnya begitu semangat. Apalagi saat Google AdSense menorehkan angka berpuluh juta. Saya lihat wajah-wajah gembira di timnya Mas Radi. Walau akhirnya harus berjibaku lagi dari bawah. Bekerja imbangi Google memang belum familier untuk kami. Tapi terus kami dan Mas Radi ikuti ritmenya.

**

Sampailah pagi itu. Senin 23 Januari 2023. Tepat 1 Rajab 1444 H. Manajer keuangan kami, Nina Herlina, menelepon saya. mengabarkan Mas Radi pingsan di rumahnya. Saya panik. Saya berdoa. Ya Allah. Sehatkan. Panjangkan umur Mas Radi. Ya Allah, biar dia pingsan saja. Jangan Engkau ambil.

Saya kirim pesan ke grup WA Radar Tasik. Agar semua yang ada di Kota Tasik merapat ke rumah Mas Radi. Saya tulis Mas Radi kritis.

Saya telepon Agustiana. Saya sapa dia Kang Agus. Minta agar segera ke rumah Mas Radi. Lihat kondisinya. Saya juga menuju ke sana. Saya harap Mas Radi pingsan saja. Saya akan bawa ke rumah sakit. Ditangani dokter dan sembuh.

HP saya menyala lagi. Ada telepon Nina. Saya masih berharap Mas Radi tidak apa-apa. “Pak Radi tos ngantunkeun,” suara Nina berat. Tersedak. Saya lemas. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun.

Bergegas saya bersama istri, Melly Hastuti ke rumah Mas Radi. Tetap berharap dia hanya pingsan. Tiba di rumah, langsung ke kamar. Ya Allah. Di atas kasur Mas Radi seperti tidur. Istri dan dua anaknya duduk ditepinya. Saya hampiri. Tubuhnya saya pegang. Dingin. Saya peluk. Tak kuasa berkata-kata. Saya kecup keningnya. Ini perpisahan yang berat.

**

Terbayang. Kamis 19 Januari 2023 sebelum duhur. Saya dikirim foto oleh Abdul Haris, foto Mas Radi duduk di kursi plastik. Depan teras rumah. Berkain sarung.

Saya segera mengajak Nina Herlina,  Agustiana dan Bu Een. Menjenguk Mas Radi. Setiba di rumahnya, saya hampiri Mas Radi yang masih duduk di kursi plastik. Berkain sarung warna coklat muda. Saya salami, Mas Radi meraih tangan saya. Mencium punggung telapak tangan saya. Saya terkejut. Saya peluk dan saling ucapkan maaf.

Saya tertegun. Selama 19 tahun bersama, baru ini hal janggal. Mas Radi mencium punggung telapak tangan saya. Ciuman tipis. Tapi ada getar yang sulit saya narasikan.

Saya berpikir, mungkin itu ekspresi yang tidak terkatakan. Kami kan sebaya. Mas Radi lahir 15 Mei 1974. Beberapa bulan lagi usianya 49 tahun. Lucu saja pakai cium tangan segala.

Saya ambil posisi duduk di kursi plastik di depan Mas Radi. Memandangi wajahnya. Betis hingga telapak kakinya yang bengkak. Ada luka kecil di betis bagian depan kaki kanannya. Sesekali lalat datang.

Kang Agus menepiskannya. Saya juga sekali ikut menepis saat lalat itu kembali datang. Kami ngobrol. Menanyakan kondisinya. Hasil kontrol lab. Mbak Indriani Susylowati, istrinya, mencari ke dalam rumah. Tapi tidak ketemu. Saya plong. Waktu diberitahu Mbak Indri, begitu kami menyapa perempuan asal Cirebon ini, bahwa gula darah, tensi dan lainnya normal. Hanya menunggu hasil cek medis lain. “Kata dokter ada gejala jantung atau ginjal. Hasilnya nanti hari Kamis,” ujar Mbak Indri.

Saya besarkan hati suami istri ini. Yakin akan sehat. Berbekal indikasi yang sementara dipegang. Hanya untuk ginjal, saya sarankan suatu terapi tertentu yang sudah terbukti oleh ibu sahabat saya, Ustadz Acep Hilman.

Kami pun pamit. Saling doakan. Saat ditinggal, Mas Radi sorot matanya terlihat bahagia.

**

Kemarin Senin pagi. Semuanya terjawab. Ciuman Mas Radi adalah perpisahan. Saya tak bisa berkata banyak. Ketika Nina mengabarkan Mas Radi sudah tiada.

Saya telepon Pak Yanto S Utomo. Direktur Utama Radar Tasikmalaya Group. Menyampaikan berita duka ini. Beliau pun tersentak. “Kalau di Tasik, saya meluncur,” ujar Pak Yanto, setelah menanyakan di mana akan dimakamkan.

Pak Yanto bersama istri dan anak sulungnya Alif, tiba sekitar satu jam setelah pemakaman. Langsung ke rumah duka menemui istri Mas Radi dan dua anaknya, Indra Naufal Firdaus dan Muhammad Raihan Al Fatih. Keluarga kecil ini tampak bahagia. Ditegaskan pimpinan dari suaminya tercinta.

“Mbak Indri sabar ya. Nanti kalau mau di sini ikut Dadan di Radar Tasik. Kalau mau ke Cirebon, nanti ke Radar Cirebon,” terbata Pak Yanto sampaikan kalimat itu ke Mbak Indri. Air mata menggenang di kedua kelopak mata ayah dari tiga anak ini.

Mbak Indri memilih di Tasik. Saya pun bersiap menjalankan mandat ini. Menghimpun keluarga dari tim Radar Tasikmalaya yang sudah berpulang. Saya teringat lagi. Usai pemakaman, saya mengakhirkan diri meninggalkan pusara. Membisikan kata untuk almarhum Mas Radi. “Tenanglah di alam barzah. Istri dan dua anak Mas Radi in syaa Allah kami semua sama-sama menjaga,” lirih kalimat itu saya ucapkan.

Tangis ini ingin meledak. Saya tahan. Saya pandangi bunga-bunga di atas pusara. Mas Radi. Saya bersaksi. Tidak ada keburukan perilakumu. Sosokmu begitu sabar. Selalu mengalah walau dirugikan. Selalu tersenyum walau mengalami kepahitan. Dirimu lebih pasti mengamalkan syarat takwa. Menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan selalu berbuat baik kepada siapa saja.

Itu terbukti. Di lingkunganmu semua orang kehilangan sosok baik hati. Memimpin ke-RT-an, aktif di DKM Masjid. Salat subuh berjamaah dengan membawa dua buah hati, jadi kekaguman para tetangga di lingkungan tempatmu tinggal.

Mas Radi. Sosokmu begitu baik. Kita pernah berikrar, kebersamaan kita di Radar Tasikmalaya Group, tidak sebatas dalam pekerjaan. Kita semua harus bersama sampai kumpul di surga.

Saya bahagia melihat jasadmu. Seperti tertidur pulas. Saat dibopong untuk dimandikan pun terasa ringan. Padahal bobotmu lebih 100 kg. Saat saya ikut menata kapas di jasadmu, membalut dengan kain kafan putih, jasadmu begitu lentur.

Pun waktu jasadmu diturunkan ke lubang lahat, hujan yang tidak begitu deras turun. Tapi tidak lama. Bagi saya, itu tanda langit pun bersedih atas kepergianmu. Sekaligus bahagia. Sebab dari langit pertama hinggu langit ke tujuh, para malaikat gemuruh menyambut ruh sucimu. Ruh orang baik. Beriman dan bertakwa kepada Alla SWT. Aamiin

**

Hari ini Mas Radi pergi. Besok lusa saya dan yang lainnya menyusul. Kami akan terus berjuang berbuat baik. Agar bisa berkumpul di surga itu.

Sampai tulisan ini saya rangkai, posisi saya di pos security. Di sini kita yang sudah senior berbincang apa saja. Akrab, penuh canda, kadang serius. Sambil mengaping generasi yunior. Penerus kita.

Tulisan ini saya rangkai sejak menjelang adzan Maghrib. Saya hentikan karena harus ke masjid Al Ikhlas di samping kantor kita. Saya bertemu jamaah. Sampaikan berita duka. Mereka kaget dan kehilangan sosok baikmu. Mereka tanpa diminta, sebelum salat magrib, melaksanakan salat gaib untukmu Mas Radi. Saya terharu. Dua pekan lalu kata   sesepuh jamaah: H Toat dan H Uus, dirimu salat Asar jamaah di masjid mereka.

Selamat jalan orang baik. Selamat berpisah saudaraku. In syaa Allah kelak kita berkumpul di surga. Aamiin.(*)

[/membersonly]

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

 

%d blogger menyukai ini: