Kedelai Langka dan Mahal, Jumlah Produksi Tahu-Tempe Dikurangi

kedelai
. Perajin olahan kedelai terpaksa mengurangi jumlah produksi lantaran sulitnya pasokan bahan baku di Kota Tasikmalaya, Minggu (25/12/2023). (frigiawan)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Setelah beberapa bulan mengalami kenaikan harga bahan baku, para perajin tempe dan tahu kini menghadapi persoalan lain.

Yakni sulitnya mendapatkan kedelai karena tejadi kelangkaan di pasar. Akibatnya mereka kesulitan memenuhi permintaan pedagang yang ada di pasar.

Persoalan ini dialami Imin Muslimin (56) perajin tahu-tempe di Babakan Karangkawitan Kecamatan Mangkubumi.

Baca Juga:PSGC Masih Berpeluang Lolos ke Semifinal Asal Bisa Kalahkan Klub IniBus Rombongan Kemah Ciamis Terguling di Buper Kiarapayung Sumedang, 10 Orang Terluka

Menurutnya, selain mahal, kacang kedelai kini sulit didapatkan. Biasanya, ia mendapat kiriman bahan baku dua kali dalam seminggu. Kini, sudah seminggu penuh ia tak mendapat pasokan.

“Bahan baku tahu-tempe bukan mahal lagi, aga menghilang di pasaran. Susah dapat. Seminggu biasa dapat 2 kali kiriman sekarang tak ada kiriman sudah seminggu,” keluhnya, Seniin (25/12/2023).

Padahal, lanjut dia, biasanya ia mendapat kiriman 3 ton kedelai untuk memproduksi puluhan potong tempe dan tahu, yang dikerjakan para perajin di wilayahnya.

Imbasnya ia juga harus mengurangi produksi dan juga membagi pekerja dalam beberapa shift agar semuanya tetap kebagian pekerjaan, di tengah langkanya bahan baku.

“Sudah 15 hari ini saya cari sendiri ke pasar, sekalipun ada kedelai, harga tinggi 5-10 persen naiknya. Sekarang bahan baku sekilogram Rp 12.500 dari biasanya Rp 10.500 kemarin saat normal,” keluhnya.

Kelangkaan tersebut secara otomatis membuat pendapatannya merosot, padahal permintaan konsumen relatif tinggi di musim liburan ini.

Ia pun mengantisipasi dengan mengurangi jumlah perajin untuk produksi tahu-tempe, dan mengurangi volumenya ukuran tahu-tempe yang diproduksi.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Dapat Penghargaan Lagi, Kali Ini dari Ombudsman RIKDRT di Kota Tasikmalaya Rata-Rata Disebabkan Masalah Ekonomi

“Langka ini, pendapatan otomatis menurun. Penjualan tinggi padahal kalau produksi,” ungkap Imin.

Perajin lainnya, Nanda Juana (30) menuturkan hal serupa. Selain bahan baku sulit sekarang harga terus naik. Padahal pesanan pembeli terus meningkat namun tak bisa terlayani.

“Normal itu sempat Rp 11.500 sekarang mungkin sudah Rp 13 ribu per kilogram. Sehari 70 kilogram kami untuk produksi. Karena susah paling cuma jualan di 50 kilogram bahan. Harga jual tetap sama, dari ukuran saja mengecil,” ujarnya.

0 Komentar