TASIK – Kelompok orang dengan orientasi seksual sesama jenis tidak ada habisnya sejak zaman jahiliah hingga saat ini. Mereka terus beregenerasi sehingga keberadaannya seolah tidak ada habisnya.

Perkembangan teknologi khususnya media sosial membuat mereka lebih mampu menjalin komunikasi dan membentuk kelompok. Bahkan, di dunia maya mereka terang-terangan mengumbar orientasi seksualnya, termasuk di Tasikmalaya.

Diolah dari berbagai sumber, ada beberapa istilah yang biasa digunakan dalam kelompok dengan simbol pelangi ini. Di antaranya yakni Top yang berarti peran maskulin, bottom (bot) artinya feminim dan vers yang bisa menjadi keduanya.

Ada juga penggunaan istilah lain yakni uke sebutan untuk pemeran pasif dan seme untuk yang berperan aktif. Dua kata tersebut diambil dari bahasa Jepang yang artinya penerima dan penyerang.

Pantauan Radar di media sosial Facebook, terdapat sebuah grup tertutup bernama “Gay tasikmalaya” dengan jumlah anggota sebanyak 1.510. Namun ada juga beberapa grup serupa yang bersifat terbuka dengan jumlah anggota lebih sedikit.

Pada beberapa grup terbuka, muncul postingan-postingan akun yang mencari lawan main yang masih di bawah umur. Di samping itu ada juga remaja yang ingin menjadi “peliharaan” pria dewasa.

Di samping penyimpangan orientasi seksual, hubungan sesama jenis ini berakibat pada penularan HIV/Aids. Penyebab penularan virus tersebut didominasi oleh hubungan seksual sesama pria.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya, tahun 2021 tercatat ada 99 kasus baru HIV/Aids. Dari jumlah tersebut 60 di antaranya akibat prilaku seksual lelaki dengan lelaki.

Koordinator KPA Kota Tasikmalaya Wawan Wardiana tidak menampik fenomena gay mendominasi penambahan kasus HIV/Aids. Maka dari itu, regenerasi kelompok gay akan terus membuat penularan Aids muncul setiap tahunnya. ”Ada beberapa usia pelajar yang terdeteksi HIV juga kan,” tuturnya.

Untuk kasus di kelompok usia 20-30 tahun pun, itu baru sebatas temuan kasusnya. Hubungan lelaki suka lelaki (LSL) yang menularkan virus HIV ini bisa terjadi saat mereka masih di usia pelajar. ”Karena pengamatan kita, prilaku LSL ini memang sudah terjadi di kelompok remaja,” katanya.

Sejurus dengan itu, Koordinator Lapangan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kota Tasikmalaya Dendi Caniardi juga mengakui prilaku LSL sudah merambah ke usia remaja. Faktornya bervariasi dari mulai korban kekerasan seksual, materi dan faktor lingkungan pergaulan. ”Tapi faktor utamanya ya tetap pada cara pandangnya dalam hal orientasi seksual,” ujarnya.

Hasil pemetaannya, terdapat sekitar 2.000 gay di Kota Tasikmalaya. Namun hal itu bersifat fluktuatif mengingat mereka tidak begitu memandang teritorial. ”Mobilitas mereka cukup tinggi baik dari Tasik ke luar maupun sebaliknya,” ucapnya.

Layaknya orientasi seks normal, usia remaja menjadi daun muda yang diminati pria dewasa di kelompok LSL. Dia menyebutkan ada komunitas kucing yang berisi gay remaja yang punya misi finansial. ”Ibarat perempuan mencari om-om untuk kepuasan seksual sekaligus membiayai hidupnya,” ujarnya.

Ada juga hubungan suka sama suka layaknya pasangan kekasih. Akan tetapi PKBI sejauh ini belum pernah menemukan pasangan yang punya komitmen dengan rentang waktu yang lama. ”Mereka sering gonta-ganti pasangan, makanya HIV semakin tinggi potensi penularannya,” tuturnya.

Di media sosial mereka cukup berani mengungkapkan jati dirinya secara terbuka. Berbeda dengan di dunia nyata, upaya mereka untuk menutupinya sangat kuat apalagi di Tasikmalaya. ”Karena mereka pun takut diketahui orang lain kalau mereka gay,” ujarnya.

Kendati tertutup, Dendi menjelaskan sebagian mereka seolah punya indra keenam. Tanpa ciri yang jelas satu sama lain bisa saling mengetahui meskipun tidak saling kenal. ”Saya juga belum paham apa yang jadi cirinya, tapi mereka bisa sama-sama tahu,” ucapnya.

Dalam hal ini baik KPA, PKBI dan pemerintah hanya fokus agar mereka menghindari perilaku yang rawan penularan HIV. Karena untuk orientasi seksualnya kembali pada pola pikir masing-masing. ”Jadi kita lebih kepada mengubah perilakunya, bukan orientasi seksualnya,” tuturnya.

Mengingat penganut hubungan lelaki suka lelaki ini sudah menyasar kelompok remaja, maka orang tua harus senantiasa memperhatikan pergaulan anaknya. Termasuk dasar-dasar pendidikan seksual sejak dini untuk mencegah penyimpangan orientasi seksual. ”Bukannya menganjurkan berpacaran, tapi setidaknya mulai memiliki ketertarikan kepada lawan jenis,” ucapnya.

Beberapa waktu sebelumnya, praktisi psikologi Rikha Surtika Dewi MPsi beberapa kali dihadapkan dengan klien penyuka sesama jenis. Baik itu homoseksual, lesbi atau pun biseksual yang mengalami masalah psikologis. ”Adanya orang-orang seperti itu (gay, lesbi) memang ada di sekitar kita,” katanya.

Dari beberapa temuannya, kata Rikha, perilaku seks menyimpang disebabkan berbagai faktor. Motivasi yang jadi pemicu bisa karena dendam, kecewa atau terbentuk alamiah melalui pergaulan. ”Pernah ada yang terbentuk karena kedekatan yang akhirnya membuat dia lebih nyaman dengan sesama jenis,” ucapnya.

Diceritakan Rikha, hal itu terjadi pada pria dewasa yang intens berkomunikasi dengan teman anaknya yang berasal dari keluarga ekonomi lemah. Dia pun sering membantu anak tersebut secara finansial yang akhirnya membuat keduanya saling menyukai. ”Mereka sering pergi tamasya berduaan, dia seperti sugar dady yang membiayai anak itu,” katanya.

Ketika diajak bicara secara logika, lanjut Rikha, dia mengakui hal itu salah dan ingin berubah. Namun pada praktiknya, pandangan seksualitasnya memang sudah berubah 180 derajat. ”Dia pernah mencoba untuk berinteraksi dengan perempuan tapi sama sekali tidak ada hasrat, padahal dulunya dia pernah menikah sampai punya anak,” ucapnya.

Melihat beberapa temuan, Rikha melihat bahwa mengembalikan pandangan seksual penyuka sesama jenis merupakan pekerjaan yang ekstra berat. Seperti halnya orang dengan HIV/Aids yang sejauh ini belum bisa disembuhkan. ”Jadi memang ini mutlak harus diperkuat dalam pencegahannya, karena kalau sudah terjerumus akan sulit mengembalikannya,” tuturnya.

Rikha pun sepakat jika edukasi seks sejak dini bisa digencarkan di dunia pendidikan. Karena bukan hanya mencegah seks bebas dengan lawan jenis, tetapi juga untuk mencegah bertambahnya orang dengan perilaku seks menyimpang. ”Jangan dianggap bahwa pendidikan seks itu hal tabu, tapi penyampaiannya yang harus tepat,” tuturnya. (rga)

By Midi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: