Harga Kebutuhan Pokok di Kota Tasikmalaya Mulai Stabil, Inflasi Juni 3,87% Dipicu Telur Ayam Ras

Inflasi
Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Azhar Livaldy Setyawigoena saat diwawancara media di Forest Hills Hotel Ciwidey Bandung, Senin (24/7/2023). (Lisna Wati / Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kota Tasikmalaya pada bulan Juni 2023 mengalami inflasi 0,04 persen (mtm) sehingga secara tahunan inflasi Kota Tasikmalaya mencapai 1,85 perseb (ytd), sedangkan inflasi secara tahunan inflasi Kota Tasikmalaya mencapai 3,87 persen (yoy).

Inflasi utamanya didorong oleh komoditas telur ayam ras, dan daging ayam ras seiring peningkatan permintaan menjelang Idul Adha. Di sisi lain komoditas bensin menjadi penahan inflasi sehubungan dengan penyesuaian kebijakan tarif beberapa jenis BBM.

“Inflasi Juni ini 3,87 persen, targetnya inflasi kita berada di 3 persen plus minus 1. Dibandingkan dengan tahun lalu, inflasi Kota Tasikmalaya sebenarnya turun sekitar 50 persen dari 6,65 persen menjadi 3,87 persen, artinya harga-harga di Kota Tasikmalaya maupun Priangan Timur sudah mulai stabil,” ujar Kepala Unit Data Statistik dan Kehumasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Azhar Livaldy Setyawigoena saat media gathering di Forest Hills Hotel Ciwidey Bandung, Senin (24/7/2023).

Baca Juga:Menilik Hijaunya Bisnis Selada Hidroponik, Desa Tanjungpura Mampu Berdikari Optimalkan PotensiFaperta Unsil Tasikmalaya Optimalkan Produk Olahan Pertanian

Sambungnya, stabil ini artinya tidak naik meningkat secara jomplang, tidak juga turun secara jomplang. “Inflasi dan deflasi kita jaga tetap stabil. Alasannya, kalau inflasi terlalu tinggi maka daya beli masyarakat menurun, begitupun kalau deflasi terlalu dalam pedagang juga bisa merugi,” jelasnya.

Ia menjabarkan, inflasi Kota Tasikmalaya selama enam bulan terakhir, paling sering disumbang oleh komoditas rokok kretek filter yang memiliki bobot yang besar dan terjadi sebagai dampak kenaikan cukai rokok secara gradual.

Adapun komoditas beras menjadi penyumbang inflasi pada awal tahun 2023 disebabkan minimumnya pasokan dan cadangan pemerintah, namun mulai mengalami penurunan. “Hal ini sehubungan dengan upaya bersama yang gencar dalam menyalurkan beras SPHP kepada masyarakat secara luas termasuk melalui Operasi Pasar GNPIP yang menyeluruh tidak hanya di pasar namun juga lokasi yang mudah di akses masyarakat,” jelasnya.

Ia melanjutkan, komoditas bawang merah sempat menjadi penyumbang inflasi pada awal tahun 2023 yang disebabkan rendahnya pasokan dampak dari terganggunya hasil panen akibat ganguan cuaca, namun pasokan kembali tersedia setelah sentra produksi panen raya pada bulan Maret 2023.

0 Komentar