Dosen Poltekkes Ajarkan Pijat Endorphin

Dosen Poltekkes Ajarkan Pijat Endorphin
BERSINERGI. Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya semangat memberikan pendidikan dan pelatihan metode pijat endorphin kepada kader kesehatan. foto: istimewa
0 Komentar

Turunkan Nyeri dan Tekan Angka Kematian Bayi

TASIK, RADSIK – Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Tasikmalaya termotivasi untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Itu dalam bentuk pendidikan dan pelatihan metode pijat endorphin kepada kader kesehatan untuk menurunkan rasa nyeri pada ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Tamansari Kota Tasikmalaya.

Proses pengabdian kepada masyarakat dilakukan oleh tim yakni Sri Gustini SST MKeb, Wiwin Mintarsih P SSiT MKes, dan Uly Artha Silalahi SST M Keb. Sasarannya untuk kader kesehatan sebanyak 37 orang di Aula Puskesmas Tamansari, Sabtu (3/9/2022).

[membersonly display=”Baca selengkapnya, khusus pelanggan Epaper silakan klik” linkto=”https://radartasik.id/in” linktext=”Login”]

Baca Juga:Umtas Tanam 2022 Pohon ManglidKH A Bunyamin Ruhiat Pensiun sebagai Rektor

Perwakilan Tim Pengabdian kepada Masyarakat kepada Kader Kesehatan Puskesmas Tamansari, Sri Gustini SST MKeb mengatakan, tujuan melakukan  kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tentunya melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Lalu, memberikan pendidikan dan pelatihan pada kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tamansari tentang pijat endorphin.

”Tentunya untuk menurunkan tingkat nyeri pada ibu bersalin akibat dari adanya kontraksi melalui pemberdayaan kader kesehatan,” katanya kepada Radar, Minggu (25/9/2022).

Dengan harapan para kader yang sudah terlatih akan memberikan pengetahuan dan hasil pelatihan pada keluarga dari ibu hamil di wilayah kerjanya. Sekaligus dapat mempraktekannya ketika mendampingi ibu bersalin.

“Sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi yang diakibatkan dari adanya nyeri persalinan,” ujarnya. Sebab, ibu hamil ketika merasakan nyeri dalam persalinan dapat menimbulkan stres. Kemudian, dapat menyebabkan terjadinya ketegangan otot polos dan vasokonstriksi pembuluh darah.

Akibatnya terjadi penurunan kontraksi uterus, penurunan sirkulasi uteroplasenta, pengurangan aliran darah dan oksigen ke uterus, serta timbulnya iskemia uterus yang membuat impuls nyeri bertambah banyak. Dengan begitu, dapat menyebabkan kematian pada janin/bayi baru lahir (BBL).

“Upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam penatalaksanaan penurunan rasa nyeri pada ibu bersalin secara non farmakologis yaitu dengan pijat endorphin. Tentunya, untuk meningkatkan peran kader sebagai pendamping ibu hamil dalam menekan angka kematian bayi,”  katanya.

0 Komentar