Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Perkuat Muatan Lokal di SD

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya  menyatakan, Muatan lokal dapat menumbuhkan kecintaan siswa sebagai penerus bangsa. Lalu menumbuhkan nilai moral, sehingga terwujudlah karakter bangsa sesuai dengan budaya lokal tatar Sunda.

Dengan pentingnya muatan lokal tersebut, Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya lewat bidang Sekolah Dasar (SD) melaksanakan program pengembangan kurikulum muatan lokal. Itu bersama 27 guru SD Kota Tasikmalaya di Hotel Horison Tasikmalaya, Rabu-Kamis (15-16/3/2023).

Koordinator Narasumber/ Pengawas Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Drs Didin Sahidin MH mengatakan, kegiatan pengembangan kurikulum muatan lokal ini, sebagai bentuk melaksanakan instruksi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 79 Tahun 2014 serta Pergub Jawa Barat Nomor 69 tahun 2013. Itu tentang pembelajaran muatan lokal bahasa dan sastra daerah jenjang satuan pendidikan dasar dan menengah.

Baca juga: Siswa SDN 2 Pengadilan Belajar Sejarah Melalui Outing Class

“Kegiatan ini sebagai wujud penerapan regulasi yang mengharuskan merevitalisasi bahasa, budaya dan seni daerah. Karena saat ini dianggap memudar, sehingga perlu diangkat kembali agar lebih menghargai kearifan lokal, khusus Sunda,” katanya kepada Radar, Kamis (16/3/2023).

Dipilih para guru-guru SD di Kota Tasikmalaya, sebab di sekolah disediakan mata pelajaran bahasa Sunda. Dengan begitu mampu menguatkan guru dalam menambah pengetahuan dalam muatan lokal Sunda terhadap siswanya.

“Setelah mendapat ilmu tersebut, diharapkan diimplementasikan oleh guru kepada siswanya. Tentunya sesuai dengan metodenya masing-masing, karena sekarang sudah Merdeka Mengajar,” ujarnya.

Sebab, mereka telah mendapatkan materi dari narasumber yakni pengawas dan guru yang telah mendapatkan pelatihan kurikulum muatan lokal di Provinsi Jawa Barat. Diantaranya tentang; bahasa, sastra, seni dan budaya Sunda, serta muatan lokal terhadap pembangunan bangsa.

“Misalnya untuk bahasa dibahas tentang tata bahasa, tingkat bahasa, peribahasa, kecap bahasa Sunda,” katanya.

Dengan harapan, jangan sampai sekolah ramai-ramai melatih siswanya bahasa Sunda saat ada kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) saja. “Tetapi harusnya dilakukan pembiasaan Bahasa Sunda saat proses kegiatan belajar-mengajar,” ujarnya. (riz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *