Budaya Nampaling Bisa Tarik Wisatawan

Budaya Nampaling Bisa Tarik Wisatawan
BUDAYA. Menangkap belalang atau nampaling bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Foto: istimewa
0 Komentar

PANGANDARAN, RADSIK – Budaya Nampaling (Menangkap Belalang) sudah dipertahankan warga Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih sejak ratusan tahun lalu.

Kepala Desa Cikalong Ruspandi mengatakan bahwa Nampaling merupakan budaya menangkap belalang pascapanen di ladang padi. ”Dilaksanakan oleh para petani setelah habis panen,” jelasnya kepada Radar, Senin (3/10/2022).

[membersonly display=”Baca selengkapnya, khusus pelanggan Epaper silakan klik” linkto=”https://radartasik.id/in” linktext=”Login”]

Baca Juga:Viking dan Polres Doa untuk Korban KanjuruhanStabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

Kata dia, alat yang digunakan untuk menangkap belalang atau simet disebut tampaling. Berbentuk kerucut yang disambungkan ke sebuah gagang atau tongkat.

Kata dia, para petani biasa menangkap belalang pada sore atau malam hari, jarang sekali dilakukan pada siang hari. “Karena cuacanya panas, belalang jarang keluar,” terangnya.

Belalang ini biasanya diolah menjadi berbagai masakan, karena rasanya yang gurih. “Bisa di asam manis, balado, di sayur dan lain-lain,” ungkapnya.

Banyak yang menjual olahan dari belalang, karena peminatnya juga tidak sedikit. “Masakan belalang ini cukup populer di Pangandaran,” katanya.

Menurutnya, budaya nampaling sudah dipertahankan sejak ratusan tahun yang lalu dan sekarang rutin digelar Festival Nampaling. “Budaya asli Cikalong, bahkan yang menciptakan alat tampaling itu ya warga sini,” jelasnya.

Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata berharap, budaya nampaling bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Bagus sekali, tradisi yang bisa menjadi magnet bagi wisatawan,” ungkapnya. (den)

[/membersonly]

Belum berlangganan Epaper? Silakan klik Daftar!

0 Komentar