Bikin Jalan Poros Buka Harapan Baru bagi Rakyat

Kemanunggalan TNI dengan rakyat, bukan sekadar slogan atau bahkan sekadar cerita. Wujud nyata bisa ditengok pada pelaksanaan program TMMD ke-115 TA 2022 yang telah ”digempur” masyarakat Desa Cikadongdong, Kecamatan Bojongasih, Kabupaten Tasikmalaya bersama Kodim 0612/Tasikmalaya, Jawa Barat. Hal ini membuka harapan baru bagi rakyat.

Tiko Heryanto, Kabupaten Tasikmalaya

SEJAK pagi buta, tepatnya hari pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-115 TA 2022 pada 09 Oktober 2022 lalu, jalanan tampak becek.

Mendekati akhir tahun, musim hujan memiliki intensitas yang cukup tinggi. Termasuk di Desa Cikadongdong, Kecamatan Bojongasih, Kabupaten Tasikmalaya, lokasi pembangunan TMMD.

[membersonly display=”Baca selengkapnya, khusus pelanggan Epaper silakan klik” linkto=”https://radartasik.id/in” linktext=”Login”]

Di tahun-tahun sebelumnya, setidaknya tahun 2021, saat memasuki akhir tahun merupakan musim yang dianggap kurang bersahabat bagi masyarakat di Desa Cikadongdong.

Bukan tanpa alasan. Hampir seluruh ruas jalan penghubung antardesa, hanya berselimut lumpur dan bebatuan.

Aktivitas masyarakat menjadi terbatas. Khususnya untuk masyarakat menjual hasi bumi serta aktivitas lainnya.

Kubangan air, tanah belumpur bisa dijumpai di hampir seluruh ruas jalan Desa Cikadongdong.

Anak-anak bersekolah pun ikut repot. Karena hanya mengandalkan berjalan kaki, tiap pijakan hanya dihadapkan dengan tanah berlumpur.

Di beberapa ruas jalan yang tersibak ada bebatuan yang muncul ke permukaan. Runcing-runcing pula.

Warga menganggap tak memungkinkan menapaki kondisi fisik jalan seperti itu mengunakan motor. Penuh risiko.

Khususnya untuk warga di Kampung Cibabakan. Kampung ini hanya ada satu RT dan satu RW. Jumlah penduduk tidak lebih dari 70 kepala Keluarga (KK). Atau sekitar 222 jiwa.

Rata-rata, masyarakat dominan berpenghasilan dari ladang pertanian dan perkebunan.

Kondisi fisik jalan tadi, nyata-nyata jadi pemangkas penghasilan bagi masyarakat Desa Cikadongdong. Bagaimana tidak, untuk menjual hasil pertanian dan perkebunan, harus terhambat soal sarana infrastruktur yang buruk.

”Hasil tani malah jadi rugi. Diangkut pakai motor. Sekali jalan itu muter sampai 6 kilometer. Kalau musim hujan seperti sekarang, ini paling parah. Hasil penjualan malah habis dipakai ongkos,” ujar Engkos Koswara, sesepuh Kampung Cibabakan.