Awal Mula Penggunaan Loudspeaker di Masjidil Haram

MAKKAH, RADSIK – Suara merdu dan menenangkan para muazin dan imam yang memimpin sholat 5 kali sehari terdengar di Masjidil Haram selama berabad-abad. Berikut ini sejarah awal mula penggunaan loudspeaker di Masjidil Haram.

Dr Mansour Al-Dajani, seorang peneliti Ssejarah Makkah, baru-baru ini mengatakan kepada Arab News bahwa panggilan sholat pertama, pada saat Dzuhur di Masjidil Haram, disampaikan dari atas atap Ka’bah oleh sahabat Nabi Muhammad, Bilal bin Rabah. Hal ini atas perintah Nabi pada hari penaklukan Makkah pada tahun 630 (8 H).

”Masjidil Haram pada saat itu sebesar Mataf (area yang digunakan untuk thawaf di sekitar Ka’bah Makkah). Dan tidak memiliki tembok yang mengelilinginya, serta menara. Menara pertama muncul pada tahun 754 (137 H) selama pemerintahan Khalifah Abbasiyah Abu Jafar Al-Mansour, yang membangun menara pertama, yang dikenal sebagai Bab Al-Umrah, di sudut barat dari sisi utara Masjidil Haram,” tuturnya.

Baca juga: Bukan Hanya Firaun, Sejarah Nabi Musa Akan Hadir di Museum The Mummy

Menara itu adalah menara tinggi yang terhubung atau berdekatan dengan masjid. Ini merupakan bagian integral dari masjid dan dirancang agar panggilan solat bisa terdengar jelas di seluruh kota.

Dia menjelaskan: ”Menara ini dan menara-menara yang dibangun setelahnya digunakan untuk mengumandangkan panggilan solat di Masjidil Haram. Muazin kepala akan memulai panggilan solat dari menara Bab Al-Umrah, kemudian semua muazin akan mengikutinya di menara lainnya. Setelah itu, menara Bab Al-Salam menjadi panggung muazin kepala untuk panggilan sholat. Lalu pada abad ke-16 (abad ke-10 H), muazin kepala menggunakan kubah Zamzam untuk menyampaikan panggilan sholat.”

Awal Mula Penggunaan Loudspeaker di Masjidil Haram

Loudspeaker di Masjidil Haram diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1947 selama pemerintahan Raja Abdulaziz.

Baca juga: Inilah Negara dengan Waktu Puasa Terpanjang dan Terpendek di Dunia

Sejarawan dan penulis Makkah yang sudah meninggal, Prof. Ahmed Ali Asad Allah Al-Kazemi, menulis dalam memoarnya ”Daily Events in Makkah”. Dalam memoar ini tertulis bahwa pada tahun 1947, Sheikh Abd Al-Zahir Abu Al-Samh, imam dan khatib Masjidil Haram, meminta Menteri Keuangan Abdullah bin Suleiman Al-Hamdan untuk menyediakan loudspeaker dan mikrofon.

Dia menulis bahwa pada tahun itu, speaker di Masjidil Haram digunakan untuk khotbah Jumat dan Eid yang jatuh pada hari yang sama. Biasanya khotbah dari putra Sheikh Abu Al-Samh, Abdul Rahman,  terdengar oleh hanya beberapa jamaah di masjid. Namun, pada Jumat 31 Oktober 1947, Sheikh Abu Al-Samh mengucapkan khotbah Jumat dengan mikrofon yang terdengar oleh ribuan jamaah di Masjidil Haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *